Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

Perempuan Ideal di Era Millenial

 Oleh penulis: Iswatun Ulia Menjadi perempuan bagi saya adalah sebuah karunia Tuhan yang sangat luar biasa. Mengapa saya mengatakan demikan? Karena bagi saya, perempuan adalah media perbincangan yang tidak pernah tuntas apabila kita ingin mengupasnya. Adalah sebuah huruf dalam kalimat yang tidak pernah mengenal jeda dan titik. Namun, bukan berarti kemudian saya menganggap laki-laki adalah ciptaan Tuhan yang tidak luar biasa. Sungguh tidak. Keduanya, baik laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang luar biasa. Sangat luar biasa. Namun di sini, saya sebagai penulis ingin menarasikan lebih tentang perempuan berdasarkan perspektif saya sebagai perempuan. Perempuan yang apabila menghargai dirinya sebagai perempuan, adalah perempuan yang sangat istimewa dan luar biasa. Di luaran sana, banyak   narasi-narasi perempuan yang merendahkan eksistensi perempuan. Misalnya, peribahasa dalam Bahasa Jawa, bahwasanya perempuan diidentikkan dengan   3M yakni macak, masak dan manak, yan...
Pict at Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang Mungkinkah perempuan bisa menjadi agen perdamaian? Kalimat tersebut yang langsung menyeruak dalam hati saya ketika melihat flyer diskusi Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, yang mendatangkan narasumber Mariana Amiruddin, S.Sos M.Hum selaku Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan). Bagaimana bisa perempuan menjadi agen perdamaian? sedangkan mayoritas perempuan selalu tidak tenang. Seringkali, perempuan khawatir atas keselamatannya sendiri. Khawatir apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya. Tak jarang, perempuan juga dituduh sebagai sumber konflik. Perempuan juga dijadikan sebagai pemicu konflik meski dirinya juga dalam suatu keadaan sebagai korban. Mariana Amiruddin menjelaskan, bahwasanya perempuan dapat menjadi agent of peace (agen perdamaian). Hal ini sebagaimana diceritakan Maria, bahwa dirinya juga sempat turun lapangan pada saat terjadi konflik anta...

Sebuah Nama

Pict at Fave Hotel Semarang Entah, rasa-rasanya aku harus menarik nafas panjang Saat seketika terbersit sebuah nama.. Menahan rasa yang begitu sesak, Menahan lidah yang begtu kelu Berusaha mengeja setiap huruf yang merangkai sebuah nama Seperti cerita yang sudah lama usang, Namun meminta untuk dibuka kembali..