![]() |
| Pict at Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang |
Mungkinkah perempuan bisa menjadi agen perdamaian?
Kalimat tersebut yang langsung menyeruak dalam hati saya ketika melihat flyer diskusi Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, yang mendatangkan narasumber Mariana Amiruddin, S.Sos M.Hum selaku Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan).
Bagaimana bisa perempuan menjadi agen perdamaian? sedangkan mayoritas perempuan selalu tidak tenang. Seringkali, perempuan khawatir atas keselamatannya sendiri. Khawatir apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya. Tak jarang, perempuan juga dituduh sebagai sumber konflik. Perempuan juga dijadikan sebagai pemicu konflik meski dirinya juga dalam suatu keadaan sebagai korban.
Mariana Amiruddin menjelaskan, bahwasanya perempuan dapat menjadi agent of peace (agen perdamaian). Hal ini sebagaimana diceritakan Maria, bahwa dirinya juga sempat turun lapangan pada saat terjadi konflik antara Ambon-Maluku.
Perempuan memiliki modal sosial diantaranya kepemimpinan, kepedulian atau empaty, melindungi, solidaritas dan yang lainnya yang mana apabila modal-modal ini dikelola dan dimafaatkan akan menjadi source dalam menciptakan perdamaian.
Namun, yang menjadi penting dalam menciptakan perdamaian sesungguhnya adalah keberanian. Perempuan harus berani dalam menyerukan dan menciptakan perdamaian.
Namun, yang menjadi penting dalam menciptakan perdamaian sesungguhnya adalah keberanian. Perempuan harus berani dalam menyerukan dan menciptakan perdamaian.
Perdamaian dalam rangka menciptakan hidup yang humanis. Hidup damai antara satu dengan yang lainnya. Antara laki-laki dan perempuan.

Komentar
Posting Komentar