Langsung ke konten utama

Perempuan Ideal di Era Millenial



Oleh penulis: Iswatun Ulia
Menjadi perempuan bagi saya adalah sebuah karunia Tuhan yang sangat luar biasa. Mengapa saya mengatakan demikan? Karena bagi saya, perempuan adalah media perbincangan yang tidak pernah tuntas apabila kita ingin mengupasnya. Adalah sebuah huruf dalam kalimat yang tidak pernah mengenal jeda dan titik. Namun, bukan berarti kemudian saya menganggap laki-laki adalah ciptaan Tuhan yang tidak luar biasa. Sungguh tidak. Keduanya, baik laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang luar biasa. Sangat luar biasa. Namun di sini, saya sebagai penulis ingin menarasikan lebih tentang perempuan berdasarkan perspektif saya sebagai perempuan. Perempuan yang apabila menghargai dirinya sebagai perempuan, adalah perempuan yang sangat istimewa dan luar biasa.
Di luaran sana, banyak  narasi-narasi perempuan yang merendahkan eksistensi perempuan. Misalnya, peribahasa dalam Bahasa Jawa, bahwasanya perempuan diidentikkan dengan  3M yakni macak, masak dan manak, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki arti perempuan hanya bisa berdandan, memasak, dan melahirkan.  Tidak hanya itu, perempuan juga disebut sebagai konco wingking yang artinya teman di belakang (baca: teman di belakang laki-laki), bahkan para mufassir dalam menafsirkan ayat dan teks ke-agama-an memposisikan perempuan sebagai objek, sedangkan laki-laki terus menerus sebagai subjek, dan masih banyak narasi-narasi lain yang apabila kita cermati adalah bagian dari dehumanisasi perempuan (penurunan derajat perempuan).
Lantas bagaimana kondisi perempuan millenial?
Era millenial saat ini seharusnya baik laki-laki ataupun perempuan bisa menghapus stigma negatif yang selama ini telah mengakar kuat akibat dari praktik budaya patriarkhi. Perempuan millenial harus mampu berdiri tegak di atas simbol-simbol maskulinitas. Perempuan adalah makhluk istimewa. Perempuan adalah makhluk multasking yang dapat mengerjakan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu dengan konsentrasi yang tetap (full concentrated) adalah satu dari sekian keistimewaan yang dimiliki perempuan yang harus kita sadari.
Peran perempuan sangat dibutuhkan di segala lini kehidupan, baik dalam ranah keluarga (domestik) maupun di ruang publik begitu pula dalam ranah sosal. Perempuan millenial harus mampu menjamah dan aktif berpartisipasi di dalamnya. Lantas bagaimana caranya?
Pertama, melakukan peran domestik. Lingkup keluarga adalah media pertama perempuan dalam melaksanakan peran domestik. Misalnya, membersihkan rumah, mencuci, memasak dan mengurus anak atau keluarga. Hal ini tidak hanya berlaku untuk perempuan yang sudah menikah saja. Anak perempuan bahkan sudah diajarkan ibu sejak kecil untuk bisa melakukan peran-peran perempuan di dalam rumah. Meski sesungguhnya pekerjaan rumah bisa dilakukan juga oleh laki-laki (dalam hal ini perlu kesepakatan pembagian peran) atau juga dengan membayar jasa orang lain untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Namun, bagi pribadi penulis, terlepas akan dilaksanakan sendiri atau diserahkan kepada orang lain perempuan pada hakikatnya harus bisa melaksanakan pekerjaan domestik.

Kedua, bergerak di ruang publik. Perempuan harus bisa memanfaatkan peluang di ruang publik. Baik untuk bekerja ataupun bergerak dalam lembaga sosial kemasyarakatan. Melakukan hal-hal sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki, dalam rangka meningkatkan kemampuan (skill) untuk pengembangan diri. Dalam berpartisipasi di ruang publik, dibutuhkan literasi untuk bisa memudahkan berinteraksi dengan masyarakat. Literasi dapat dilakukan dengan membaca buku, mnyimak arus informasi yang selalu berganti dan mengikuti tren isu baik yang berkembang di masyarakat atau di media sosial. Melalui pengembangan diri ini, pada akhirnya dapat mengikis stigma marginalisasi dan subordiansi perempuan.
Ketiga, memiliki penghasilan sendiri. Sebagaimana era millenial saat ini, tidak sedikit perempuan yang mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Baik dalam rangka memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga atau hanya sekadar untuk mengisi waktu luang. Terlebih saat ini didukung dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Teknologi mampu menembus jarak dan ruang, sehingga perempuan dapat memiliki penghasilan sendiri bahkan walau hanya di dalam rumah. Kemandirian ekonomi menjadikan perempuan tidak bergantung kepada laki-laki. Hal ini perlu, karena untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan nantinya (unpredictable situation).      
Keempat, memberdayakan orang lain. Ini adalah tahap atau fase terakhir penurut penulis, di mana  seorang perempuan dikatakan perempuan ideal di era millenial setelah melewati tiga fase sebelumnya. Memberdayakan orang lain itu berarti perempuan harus mampu mengajak perempuan lainnya (masyarakat) untuk bisa berdaya. Tidak hanya terbatas dalam pemaknaan berdaya dalam segi ekonomi, namun jauh dari itu adalah bagaimana perempuan mampu menghargai dirinya. Mampu menyadari keistimewaan dan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya, sehingga mampu mengintegrasikan antara potensi dengan peluang. Hingga pada akhirnya perempuan dan kesempatan menjadi satu senyawa yang tidak terpisahkan. Pada tahap ini, ada satu tujuan luar biasa yang perlu dicapai, yakni kemanusiaan. Meghargai manusia satu dengan yang lainnya. Agar di bumi Tuhan ini, tidak hanya manusia saja yang terlihat namun juga kemanusiaan (not only human but also humanity).

Perempuan adalah manusia ciptaan Tuhan yang sangat istimewa.  Namun, menjadi perempuan ideal di era millenial adalah manusia terpilih yang sangat luar biasa.

Salam Perempuan Millenial!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...