![]() |
| Source : ig @mayasofiachaca |
Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup
pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah
sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan
dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua
tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula
saat meraih gelar Diploma.
Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya
melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi
yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia
adalah sutradara yang paling handal.
Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria.
Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya
adalah kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah
dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu.
Di awali dari menjadi Pimpinan Umum (PU) Lembaga Pers Mahasiswa Invest
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, menjadi salah satu delegasi Student Exchange
program Jenesys ke Jepang, Menjadi juara ketiga Debat Ekonomi Syariah tingkat
Nasional (Nisedco) di Pamekasan, Menjadi Wisudawan Terbaik program Diploma, dan
saat ini, penerima penghargaan Aktivis Mahasiswa dan Wisudawan Terbaik program
Strata 1 (S1), dan masih banyak lagi serentetan prestasi yang lain.
Berada jauh dari orang-orang terkasih dengan jangka waktu yang tidak sebentar, tentu tidak semua orang bisa melakukan dan bertahan, meski harus berada pada kondisi yang memaksa. Toh, hal itu yang kemudian menempa seseorang agar tetap berdiri tegak dan tetap tangguh. Iya, tetap tangguh bertahan sendiri. Tetap tangguh menahan rindu. Tetap tangguh melawan keadaan.
Berada jauh dari orang-orang terkasih dengan jangka waktu yang tidak sebentar, tentu tidak semua orang bisa melakukan dan bertahan, meski harus berada pada kondisi yang memaksa. Toh, hal itu yang kemudian menempa seseorang agar tetap berdiri tegak dan tetap tangguh. Iya, tetap tangguh bertahan sendiri. Tetap tangguh menahan rindu. Tetap tangguh melawan keadaan.
Dan ternyata, sampai pada kalimat yang sedang kau baca ini, tanpa kusadari
ada air yang mengalir, setetes, dua tetes, begitu seterusnya membasahi pipi.
Aku sadar, aku bukan perempuan yang pandai mengungkapkan rasa. Aku tidak seperti dirimu. Aku tidak bisa mengucapkan apa yang biasa kau ucapkan padaku. Aku tidak pernah mengatakannya. dan kau tahu itu. Hanya
melalui tulisanlah semua hal yang ku rasa bisa ku curahkan. Termasuk rasaku
saat ini, yang tersembunyi dalam narasi.
Ini adalah narasi singkat pada kondisi yang tidak tepat. Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin aku ceritakan tentangmu, agar seluruh isi bumi tahu bahwa betapa beruntungnya aku mengenalmu. Namun, suhu badan kurasa semakin memanas, pula jemari
ku sudah bergetar, tanda harus ku akhiri.
Dear Maya, perempuan yang sedang berada di luaran sana,
Selamat diwisuda. Apa yang kamu raih dalam hidup adalah bagian dari do'a-do'a ayah dan ibu yang sedang dikabulkan. Semoga selalu diberikan kesehatan dan semangat untuk
terus belajar. Dan semoga Tuhan menjadikan laki-laki yang saat ini tengah
bersamamu, adalah laki-laki yang bisa menjadi partner hidup mu. Partner yang bisa
mendukung segala aktivitas-positif mu. Kalaupun bukan, bukankah Tuhan sudah
menyiapkan partner hidup sesuai cerminan diri kita masing-masing? Dan aku
percaya itu.
Salam hangat dariku,
Perempuan yang hanya bisa mengungkapkan rasa pada sebuah narasi.
(Dinarasikan di YPK eLSA Puteri,
Semarang, 18 November 2019 ; 21:31)

Komentar
Posting Komentar