![]() |
| source: pinterest.com |
“Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..”
Hari
ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan
ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki
yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan
selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’.
Dearst,
Terimakasih
banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala
harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan
yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada
disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi
percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu.
Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu
untuk segala kebaikan-kebaikan mu.
Bertambahnya
usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. Biarkan aku tetap berada dalam
keheningan, menyadari kehadiran diriku, bersama dengan buku-buku dan
tulisan-tulisan ku-yang saat ini tak pernah menemukan titik akhir saat
kutuliskan. Membuka-tutup halaman-halaman buku yang telah kubaca berulangkali.
Melihat dan membaca kembali tulisan-tulisan yang pernah kukirimkan dalam setiap
lini masa. Dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memandang frame yang ada pada meja kerja.
Lamat-lamat
memandang frame pada meja kerja,
semakin menambah kegelisahan. Terhitung sudah sepekan ini, kegelisahan
seringkali datang tanpa diundang. Kututup hari dengan berbagai pertanyaan.
Pertanyaan dari diriku, untuk diriku. Namun lidah ku kelu. Hanya buliran air
yang menjawab.
Pada
seperempat abad ini, relasi (baca: lawan jenis) bukanlah sesuatu hal yang
menjadi prioritas. Bagiku, seperempat abad bukan perkara “Sudah memiliki
pasangan?”, “Kapan menikah?”, sampai berujung pada “Kok masih single aja, sih”.
Bukan itu, sungguh. Bagiku, bertambah usia adalah perihal apa yang bisa aku
lakukan dan berikan. Baik untukku, Supporting sistem dalam hidup ku, dan
orang-orang sekitar.
Menjadi
perempuan yang hidup sampai dengan era modern dengan seabrek platform digital, nyatanya
tidak membuat diriku merasa lebih baik. Di luaran sana, masih banyak laki-laki
yang menganggap perempuan tidak lebih baik dibanding laki-laki. Pandang-pandang
mata yang merendahkan, siulan dan sapaan yang membuatku merasa tidak nyaman,
dan jijik. Setiap hari aku harus membusungkan dada. Melawan dengan tatapan
sinis. Bahkan seringkali tidak peduli dan menganggap tak ada. Semakin sadar, bahwa aku masih hidup dalam kubangan
patriarki dan dominasi. Bahkan, seringkali aku harus patah hati atas
asumsi-asumsi yang selalu ku coba sematkan pada laki-laki. Ah, sudahlah.
Bagiku, support kepada perempuan lain, adalah hal yang paling baik untuk
dilakukan.
Pada
seperempat abad,
Aku
hanya ingin memeluk diriku sendiri. Memeluk erat diriku. Terimakasih sudah bertahan
sampai pada titik ini. Terimakasih telah membersamai melalui situasi yang
pelik. Pada seperempat abad ini, izinkan aku memberikan hadiah untuk mu; dua
buah buku. Semoga kamu sabar menanti sampai buku itu tiba. Kau suka itu bukan? Selain
kopi bercampur krimer dan cokelat panas.
Karena
aku tahu, belajar bagimu adalah cara untuk mensyukuri segala pemberian Tuhan.
**Dinarasikan
di YPK Elsa Puteri, Semarang,
17 Mei 2020

おめでとう誕生, ウリアちゃん。^_^/
BalasHapus