Sumber : http://bukuislamnusantara
Resensi Buku
Judul Buku : Membumikan Islam Nusantara
Pengarang : Dr. Ali Masykur Musa
Islam hadir menjadi agama pelengkap dari agama terdahulu. Kedatangan agama Islam membawa warna baru ditengah peradaban masyarakat. Penyebaran Islam khususnya di tanah Jawa dibawa oleh walisongo. Agama yang dibawa oleh para wali yang berjumlah sembilan tersebut disebarkan dengan cara damai. Kedatangan Islam yang sebelumnya sudah terdapat agama Hindhu-Budha di tengaj masyarakat membuktikan bahwa agama Islam memiliki nilai ajaran pluralisme. Pluralisme diartikan sebagi sebuah faham yang mengakui adanya keanekaragaman (pluralitas) hingga membutuhkan sikap toleran dan saling menghargai satu sama lain.
Buku karya Ali Masykur Musa ini menyajikan lima bagian utama. Bagian pertama, relasi Islam terhadap doktrin kemanusiaan seperti demokrasi, kesetaraan gender, pluralisme, kebebasan beragama, dan hak asasi manusia. Bagian kedua, harapan dan tantangan Islam ditengaj era globalisasi. Bagian ketiga, Pengalaman bangsa Indonesia. Bagian ke empat, membumikan Islam melalui media pesantren dalam menyongsong kebangkitan Indonesia, dan bagian terakhir membahas ideologi pancasila wujud aktualisasi Islam Indonesia.
Di era derasnya modernisasi, marak terjadi kekerasan yang dilegalkan atas nama agama. Misalnya saja kelompok ISIS yang ingin mendirikan megara Islam (khilafah islamiyah). Untuk melancarkan missinya, mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja yang tidak menerima dan tidak sepaham dengan ideologinya. Selain itu, degradasi moral yang dialami generasi muda bangsa juga merupakan permasalahan pelik yang dialami Indonesia.
Islam sebagai agama Rahmatan lilalamin menjadi tertuduh dan dicemooh atas gerakan-gerakan radikal. Jika dikaji lebih jauh, tidak ada suatu agama yang mengajarkan umatnya untuk bertindak kekerasan, anarkis, dan teror. Ditengah carut-marutnya permasalahan yang dialami Indonesia, diperlukan upaya pembangunan karakter (Character Building). Upaya ini dapat ditempuh melalui pendidikan dalam membentuk kepribadian seseorang. Pendidikan karakter juga harus diterapkan sejak lahir. (Hlm. 246).
Pendidikan dalam pesantren juga menjadi instrumen yang tak kalah penting. Untuk mencegah menyebarnya paham radikal, diperlukan upaya untuk memaknai kembali makna nilai-nilai jihad, yaitu dengan pemaknaan kembali al-quran dan hadist. Melalui pesantren inilah degradasi moral dapat dibenahi melalui pembelajaran akidah dan akhlakul karimah dalam pesantren.
Buku ini sangat bermanfaat bagi siapapun yang ingin mengetahui perlunya membumikan Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin melalui media pesantren.
(Iswatun Ulia_UINWS)

Komentar
Posting Komentar