Pergantian tahun adalah hari yang sangat dinanti. Tak hanya para remaja, anak-anak bahkan orang tua pun antusias menyambut tahun baru. Tahun baru diidentikkan dengan kemeriahan, disertai dengan suara letupan kembang api berwarna-warni. Mungkin hal itu yang dinanti dalam perayaan satu tahun dalam sekali ini.
Namun kali ini nampaknya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aku, yang tergabung dalam organisasi sebuah lembaga penerbitan merayakan tahun baru tidak dengan suara letusan kembang api. Kami merayakan tahun baru dengan berkumpul bersama dan makan bersama. Karena memang beruntungnya ada salah seorang senior yang dengan ikhlas mensponsori. Alhamdulillah ya. hehe
Dimulai dengan pembelian bahan baku, meracik, dan memasak kami lakukan bersama. Kepulan asap pembakaran memenuhi ruang kontrakan yang tidak luas itu, namun cukup. Menambah sedap bau sate. Tak hanya itu, suara benturan spatula dan wajan pun tak kalah menggoda perut yang semakin keroncongan karena bau rica-rica dan seafood kerang yang dimasak. Sebagian lainnya asyik memainkan kartu sesembari tertawa lepas saat salah satu dari mereka kalah dan harus melakukan hukuman. Sebagian lain juga beradu cakap di dua ruang kamar yang letaknya bersebelahan. Entah apa yang merekacakapkan, yang jelas suasana malam itu, bak keluarga besar yang lama terpisah hingga membuncahkan sebuah kerinduan. Ramai. Syahdu.
Detik berganti menit, dan menit berganti jam, kami masih asyik melakukan aktivitas masing-masing yang bisa dibagi kedalam beberap grup itu. Tak jarang beberapa orang bersliweran sekadar menanyakan apakah ada yang bisa dibantu atau malah iseng mengambil beberapa tusuk sate dan menu masak lainnya dengan dalih ingin mencicipi apakah rasanya sudah pas atau belum (modus). Disela itu, sempat terbersit untuk memainkan game yang sedang tenar bulan-bulan ini. Ya, manekin challenge. Game yang seketika semua orang menjadi patung ketika mendengar musik dan seseorang memvideo gaya kocak mereka. Bak manekin dalam butik yang dipajang mengenakan pakaian.
Jam menunjukkan hampir pukul 00.00 satu persatu menu makan malam mulai dikeluarkan. Menambah ketidaksabaran kami untuk melibas semua itu. Daun pisang yang ditata memanjang itu sebagai piring untuk menampung nasi dengan semua sohibnya itu. Persis layaknya cara makan ala santri pesantren. Namun, itulah yang menjadikan kami membaur menjadi satu meski sesungguhnya kami tidak mengenal satu sama lain. Mungkin alasannya karena kami berbeda. Berbeda angkatan, berbeda organisasi, berbeda jurusan dan masih banyak lagi. Namun bukankah dengan perbedaan itu semua yang membuat kita bisa bersatu ? Tentu.
Setelah semua siap saji, semua membariskan diri disepanjang tepi kanan-kiri sanjangndaun pisang itu. Berdoa bersama sebagai rasa syukur terhadap Tuhan karena masih diberi kenikmatan untuk melahap karya-Nya. Meski ada beberapa yang mendahului makan,namun tak menjadi masalah toh yang penting nantinya perut terisi kan ?
Acara malam itu berjalan begitu harmonis. dan mungkin romantis bagi beberapa orang. itu adalah kali pertama ku merayakan malam pergantian tahun baru bersama keluarga kedua ku di Semarang. semoga perayaan sederhana seperti itu menambah rasa syukur kita atas limpahan rahmat dan kenikmatan yang masih bisa kita rasakan sampai detik ini. Semoga resolusi di tahun baru ini dapat kita capai semua dan yang terpenting di tahun baru ini semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mampu membanggakan orang-orang tersayang disekitar kita. Aamiin..
My Beloved, LPM Invest-Justisia.
Acara malam itu berjalan begitu harmonis. dan mungkin romantis bagi beberapa orang. itu adalah kali pertama ku merayakan malam pergantian tahun baru bersama keluarga kedua ku di Semarang. semoga perayaan sederhana seperti itu menambah rasa syukur kita atas limpahan rahmat dan kenikmatan yang masih bisa kita rasakan sampai detik ini. Semoga resolusi di tahun baru ini dapat kita capai semua dan yang terpenting di tahun baru ini semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang mampu membanggakan orang-orang tersayang disekitar kita. Aamiin..
My Beloved, LPM Invest-Justisia.

Komentar
Posting Komentar