Resensi Film
Judul : Keluarga Cemara
Jenis
Film : Drama
Produser : Anggia Kharisma, Gina S. Noer
Sutradara : Yandi Laurens
Produksi : Sinema Pictures
Peresensi : Iswatun Ulia
*Dimuat di https://lpminvest.com
*Dimuat di https://lpminvest.com
Menjadi
keluarga ideal merupakan dambaan bagi setiap keluarga. Lantas sebenarnya citra
keluarga ideal itu seperti apa? Apakah mereka yang berlimpahan materi sehingga
bisa memenuhi segala kebutuhan, atau bahkan sebaliknya?
Melalui
film yang disutradarai oleh Yandi Laurens ini bisa menjadi salah satu contoh citra
keluarga yang ideal. Meski idealitas merupakan subjektifitas bagi setiap orang
dan tidak bisa diuniversalkan. Film yang menggambarkan kehidupan harmonis dalam
keluarga ini diperankan oleh Ringgo Agus Rahman selaku Abah, Nirina Zubir
sebagai Emak, Zara JKT 48 sebagai Euis dan Widuri Puteri sebagai Cemara atau
Ara.
Dalam
film tersebut, Abah adalah sosok Ayah yang sangat bertanggungjawab. Sosok yang
selalu siap meski dalam situasi yang
sangat sulit sekalipun. Sedangkan Emak, adalah sosok perempuan yang cerdas.
Emak mampu mendidik, menerima, dan menguatkan Abah dalam kondisi bagaimanapun.
Dalam
film ini, rumah Abah disita oleh debt collector karena hutang perusahaan yang
dilakukan oleh Kakak Iparnya, Fajar. Penyitaan dilakukan pada saat pelaksanaan
pesta ulang tahun Euis yang ke-13 tahun. Akibat penyitaan tersebut, Abah dan
keluarga harus tinggal di kantor untuk sementara waktu. Sempat meminta bantuan
advokat untuk meminta kembali hak milik
rumahnya, namun kasusnya kalah di pengadilan. Sehingga mengakibatkan
keluarganya jatuh miskin, bahkan mungkin untuk selamanya.
Akibat
kejadian tersebut terpaksa Abah, Emak, Euis dan Ara harus tidur di ruangan
kerja Abah di kantor, yang juga dijadikan sebagai tempat tinggal untuk
sementara waktu. Sampai pada akhirnya Abah teringat akan rumah masa kecilnya
yang merupakan rumah warisan peninggalan Aki (ayah Abah) yang berada di Jawa
Barat.
Menempati
rumah sederhana dan jauh dari perkotaan menjadi kehidupan baru yang harus
dilalui oleh keluarga Abah, terutama untuk Euis dan Ara. Terlebih Euis, yang
harus berpisah dari teman-temannya yang berada di Jakarta dan berpindah ke sekolah
dengan fasilitas yang jauh berbeda dari sekolah yang sebelumnya. Sama halnya
Ara yang saat ini juga mulai bersekolah. Euis dan Ara harus beradaptasi dengan
lingkungan dan teman baru.
Abah
mencoba mencari pekerjaan baru namun na’asnya, Abah ditolak karena tidak sesuai
dengan kriteria karyawan yang dicari oleh perusahaan. Kebutuhan keluarga yang
harus segera dipenuhi memutuskan Abah untuk bekerja menjadi seorang kuli
bangunan, bersama dengan kawan masa kecilnya Romli. Abah bekerja keras, pagi
siang dan malam. Tidak juga beristirahat, seperti kawan-kawannya meski
sebenarnya Abahpun lelah. Sampai pada akhirnya Abah terjatuh dari ketinggian
saat hendak mengambil adukan semen bangunan. Akibat peristiwa yang tidak
diinginkan itu, Abah mengalami patah kaki sebelah kanan.
Sudah
jatuh tertimpa tangga, adalah peribahasa yang pantas disematkan oleh keluarga
Abah. Kesulitan datang bertubi-tubi, terlebih pada saat mengetahui bahwa Emak
sedang hamil. Kondisi Abah yang tidak dapat bekerja lagi, sedang harus
membiayai sekolah Ara dan Euis serta kehamilan yang semakin membesar,
menjadikan Emak memutuskan untuk berjualan Opak singkong. Setiap hari, Euis
dengan terpaksa harus membawa dagangannya ke sekolahan untuk dijual kepada
teman-temannya. Akibat cibiran dari kawan-kawannya, menjadikan Euis marah
kepada Abah dengan menyalahkan kondisi yang Euis alami sekarang. Kondisi yang
sangat jauh berbeda dibandingkan dulu. Euis menginginkan agar pindah ke Jakarta
dan kembali hidup dengan kondisi, fasilitas, dan teman-temannya yang dulu.
Namun,
untuk berpindah ke Jakarta tentu membutuhkan biaya hidup yang tidak sedikit.
Mulai dari tempat tinggal, biaya sekolah dan biaya hidup lainnya sedangkan
kondisi keluarga saat ini terbilang jauh dari cukup. Namun, sebagai Abah yang
menginginkan kebahagiaan putrinya, Abahpun dengan terpaksa memutuskan untuk menjual
rumah warisan Aki untuk pindah ke Jakarta.
Namun
berbeda dengan Ara, Ara yang masih berusia sekitar enam tahun itu, justru
memiliki pandangan yang berbeda. Kondisi serba sederhana yang saat ini sedang
dialami justru menjadikan Ara bahagia. Dikarenakan Ara bisa satu kamar dengan
kakak perempuannya, teh Euis, dan setiap hari bisa berkumpul dengan Abah dan
Emak. Kebersamaan yang dulu jarang ia dapatkan meski hidup penuh dengan
kecukupan. Lambat laun, hal tersebut juga dirasakan oleh Euis. Euis pun tidak
menginginkan lagi pindah ke Jakarta. Situasi saat ini yang bisa berkumpul bersama
setiap harinya adalah segalanya.
Malam
hari, Abah mendapatkan kabar bahwa Emak melahirkan di Rumah Sakit. Ragil,
adalah bayi laki-laki yang kini melengkapi kebahagiaan Abah, Emak, Euis dan
Ara. Tak hanya Ragil yang merupakan hadiah keluarga, melainkan juga kehadiran
sertifikat rumah yang ternyata tidak jadi dijual sebagaimana yang diinginkan
Euis dan Ara. Pada akhirnya, mereka tinggal dalam rumah warisan Aki. Meski
terbatas materi, namun berlimpah kebahagiaan.
Keluarga
adalah relasi yang saling menguatkan. Mengubah yang sulit menjadi mudah, berat menjadi ringan,
sempit menjadi sempat, sedikit menjadi cukup dan tangis menjadi bahagia. Karena
sesungguhnya, harta yang paling berharga adalah keluarga.

Komentar
Posting Komentar