![]() |
| Penulis: Iswatun Ulia (pict: google.com) |
Terhitung
sejak tiga hari ini, saya menemukan sebuah tempat di dalam rumah –yang-
kemudian saya tasbihkan tempat itu sebagai tempat favorit. Sebuah sudut yang
tidak begitu luas, bahkan bisa dibilang sempit. Sudut atas anak tangga. Bagi
sebagian orang yang melihat, pasti akan lebih mempersilahkan saya untuk
berpindah ke tempat yang lebih luas. Namun, siapa mengira kalau saya sebagai
pelaku telah menemukan kenyamanan di sini. Kenyamanan yang orang lain tidak
bisa merasakan.
Hampir
sepanjang hari saya menghabiskan waktu di sudut ruang ini. Entah membaca buku, mengerjakan
bisnis, mencari informasi, mendengarkan musik, atau bahkan sekadar menikmati
udara luar yang bisa dengan bebas masuk. Karena kebetulan, ruang ini bisa
dibilang seperti balkon, namun bedanya di tempat ini tidak begitu luas seperti
balkon rumah yang bertingkat pada umumnya, melainkan hanya ruang sempit yang
dibatasi dinding. Namun sudut ini cukup representatif jika digunakan untuk
melihat langit, awan, matahari dan pepohonan disekitaran rumah.
Bahkan
pada malam hari pun, saya sering menghabiskan waktu di tempat ini. Lebih
tepatnya duduk pada sebuah dinding pembatas ruang itu, yang tidak begitu luas
sisi lebarnya. Ya, seperti duduk di atas genteng kalau apabila ada orang yang
melihat. Namun, saya sangat menikmatinya. Ditambah, pemandangan malam hari,
melihat bintang-bintang di atas langit.
Karena kebetulan semenjak saya menghabiskan malam di tempat ini, tidak
mendapati kehadiran bulan. Entah..
Seperti
halnya saat ini, sore ini saya sedang menempati sudut ruang ini. Sembari buka
tutup patform informasi media sosial. Mulai dari platform tentang bisnis,
sampai pada paltform tentang informasi penerapan keadilan gender dalam keluarga.
Sembari memutar musik lagu Bossonova Java Jazz. Lagu-lagu jawa yang
kemudian dikemas dengan instrumen jazz. Sebelum itu, saya sempat membuat
secangkir kopi panas. Seperti biasa, dengan ukuran dua sendok kopi, dua sendok
gula (bahkan seringnya lebih) dan dua sendok krimer. Harap maklum, karena saya
lebih suka dengan kopi yang agak manis.
Menikmati
kopi sembari menikmati udara sore hari, membuat saya kemudian ingin mengayunkan
jari di Ms. Word. Setiap saya menyeruput kopi, lamat-lamat saya memandangi kopi
itu. Kemudian sejenak berfikir dalam hati, bahwa untuk menjadi secangkir kopi
yang enak dan bisa dinikmati, tentu membutuhkan takaran dan racikan yang pas.
Mulai dari takaran kopi, gula, dan krimer (bagi yang suka). Meski hanya tiga
komponen, jika takarannya tidak sesuai, pasti rasa kopi pun akan berbeda. Sama
halnya seperti secangkir kopi yang ada di kafe-kafe luaran sana. Konsumen tidak
akan kembali jika kopi kafe tersebut tidak enak dan tidak bisa dinikmati bagi
banyak orang.
Kemudian
saya berusaha mengaitkan antara kopi dengan perempuan. Layaknya kopi yang
membutuhkan takaran yang pas, saya pikir perempuan juga harus memiliki ‘takaran’
yang pas. Sama halnya dengan kopi yang membutuhkan takaran yang pas untuk bisa
diterima di banyak kalangan. Takaran yang pas seorang perempuan tentu tidak
bisa di generalisir. Subjektivitias yang tidak bisa disamaratakan antara yang
satu dengan yang lainnya. Tapi saya ingin mencoba mendeskripsikannya secara
umum. Penilaian ini yang mungkin menurut saya selaku penulis memiliki kebenaran
umum yang bisa diterima di kalangan mayoritas.
Takaran
pas perempuan, sehingga bisa dikatakan sebagai perempuan ideal secara umum
meliputi tiga komponen yakni meliputi cantik (beauty), otak atau
kecerdasan (brain) dan perilaku (behaviour). Saya akan sedikit
menarasikan hal tersebut. Terkait komponen yang pertama adalah cantik (Beauty).
Cantik bagi seorang perempuan adalah naluri alamiah. Seorang perempuan tentu
ingin terlihat cantik. Meski cantik sejatinya tidak memiliki tolok ukur yang mutlak
dan pasti penilaian cantik antara seseorang dengan orang lain pasti berbeda.
Karena cantik bersifat subjektif. Entah itu tolok ukur cantik adalah dia yang
berkulit putih, berbadan tinggi nan ramping, berambut hitam nan panjang, hidung
mancung, atau bahkan justru sebaliknya.
Perempuan
akan terus berupaya agar terlihat cantik (secara fisik) dengan didukung dengan
berbagai macam produk kecantikan, mulai dari make up, parfum, perawatan kulit
wajah (skin care) dan perawatan tubuh (body care). Semua itu dilakukan
perempuan tidak hanya agar terlihat cantik, namun juga untuk menambah rasa
percaya diri perempuan. Karena dengan percaya diri itu, bukan tidak mungkin
perempuan bisa menemukan kebahagiaan.
Kedua, adalah otak atau kecerdasan (brain). Ada banyak hal yang
bisa dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan otak. Mulai dari membaca buku, mencari
informasi, mengikuti isu terkini, atau bahkan berselancar di dunia maya membaca
portal berita atau situs informasi dalam rangka memperkaya ilmu pengetahuan.
Jadi secara singkat brain adalah penilaian berdasarkan kemampuan
intelektual.
Ketiga,
perilaku (behaviour). Perilaku merupakan sebuah tindakan
nyata seseorang atau individu dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan. Dalam
masyarakat, perilaku ini hanya terbagi menjadi dua; perilaku yang baik atau
buruk. Dikatakan perilaku baik, apabila tindakan tersebut dapat diterima di
kalangan masyarakat dan masayarakat merasakan manfaatnya baik secara langsung
atau tidak langsung. Sedangkan perilaku yang dikatakan buruk yakni apabila
tindakan tersebut tidak dapat diterima atau bahkan sampai merugikan orang lain.
Refleksi
perempuan dengan kopi ini, kemudian mengingatkan saya pada hasil lembaga
penelitian Sigma Survey bahwa penilaian seseorang terhadap orang lain (dalam
hal ini laki-laki terhadap perempuan) meliputi beauty, brain and behaviour.
Riset ini melipatkan 1.200 responden, dan diketahui bahwa mayoritas
mendefinisikan kecantikan sebagai tampilan fisik, dikarenakan kesan pertama
yang ditangkap oleh otak adalah tampilan fisik. Hal ini berbeda dengan
penilaian cantik terhadap perempuan oleh Efnie Indrianie yakni perpaduan
anatara fikiran, tubuh dan jiwa (mind, body and soul).
Terlepas
berbagai subjektivitas tersebut, sejatinya menjadi perempuan itu tidaklah
mudah!
Wallahua’lambisshowab..

Komentar
Posting Komentar