Langsung ke konten utama

Belajar Kesalingan bersama Arief Budiman dan Leila Chairani Budiman



Doc. Foto bersama Ibu Leila Chairani Budiman dan Prof. Arief Budiman. Ket. foto dari kanan ke kiri : Mas Ruri, Alhilyatus Zakiyah, Iswatun Ulia, Mufti Muadib. Salatiga, (Jumat, 5 Juli 2019)

Jum’at malam, kembali saya menguatkan langkah dan mental untuk kembali menginjakkan kaki di kota Salatiga. Setelah sebelumnya di Rabu malam, saya sempat mengalami shock yang cukup berat (bagi saya pribadi) akibat peristiwa tabrak mobil di tol Salatiga-Semarang.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul delapan malam. Sepulang bazaar buku di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga (UKSW) dan sempat singgah sebentar di kediaman salah seorang senior. Peristiwa itu masih tergambar jelas di ingatan. Detik-detik mobil yang kita tumpangi ditabrak begitu keras oleh mobil yang ada di belakang. Mobil rusak cukup parah, namun diuntungkan, kami berempat selamat. Ya memang, meski dalam kondisi yang begitu, tetap saja masih ada kondisi yang diuntungkan. Karena Tuhan-lah yang menyelamatkan.
Sekilas cerita itu, akhirnya saya mencoba menguatkan kaki dan mencoba menepis bayangan tragedi itu yang sempat membuat saya down, menangis bahkan tidak nafsu makan. Dalam kejadian seperti itu, kita tidak bisa menyalahkan siapapun, karena setiap orang memiliki cara penerimaan yang berbeda.
Malam tadi, atmosfer di salatiga begitu menenangkan, angin berhembus  sayup-sayup. Lalu lalang kendaraan tidak begitu padat seperti di Semarang. Selesai acara syukuran, salah seorang kawan perempuan mengajak untuk bersilaturrahmi ke kediaman salah seorang yang pernah menjadi dosen di UKSW. Beliau bernama Prof. Arief Budiman, yang memiliki nama asli Soe Hok Djin (kakak dari Soe Hok Gie).
Saya sempat merasa kaget dan timbul  rasa iba melihat sosok lelaki yang sedang duduk di atas kursi roda sembari disuapi makan malam oleh seorang laki-laki berambut panjang. Laki-laki yang sedang duduk di atas kursi roda itu begitu kurus, tidak mampu bergerak banyak, berbicarapun tidak begitu jelas. Hanya pendengaran yang masih berfungsi normal.
Dan benar, laki-laki itu adalah Prof. Arief Budiman. Pria lulusan Harvard University dan sekaligus pernah menjadi  dosen di beberapa Perguruan Tinggi, salah satunya adalah di Melbourne University. Hingga pada akhirnya ia memutuskan menghabiskan masa tuanya untuk menetap di Salatiga. Ada beberapa hal yang bisa saya maknai dari pertemuan singkat pada malam itu;
Kesalingan, memasuki usia 73 tahun bahkan lebih, tentu bukanlah usia yang muda lagi. Kondisi kesehatan yang semakin menurun akibat penyakit yang dideritanya justru membuat Leila semakin menguatkan Prof. Arief. Memberikan ketulusan untuk tetap berada di samping Prof. Arief. Mendengarkan cerita meski dengan suara yang tidak begitu jelas. Memberikan semangat hidup dan masih banyak yang lain. Kekuatan ini yang saya lihat dari setiap intonasi suara dan bahasa tubuh Leila, seperti menyentuh, memeluk dan mencium kening prof. Arief. Kesalingan inilah yang sangat dibutuhkan ketika kita hidup, baik dalam ranah berpasangan atau bahkan bagian dari  civil society. Saya semakin yakin, sesulit apapun kondisi, jika dihadapi dengan sikap kesalingan semua akan terasa lebih mudah dan ringan.
Ketulusan, tidak hanya ketulusan yang diberikan Leila kepada Arief, namun juga ketulusan yang diberikan oleh Wawan. Wawan adalah perawat pribadi Prof. Arief. Saya melihat, Mas Wawan begitu telaten merawat Prof. Arief. Mulai dari menyuapi makan, menyuapi obat, membantu ke kamar kecil, menuntun berjalan, dan segala aktivitas sejak Prof. Arief bangun tidur hingga kembali istirahat. Terlepas, karena sebuah kewajiban seorang perawat kepada tuannya, saya rasa ketulusan yang seperti ini belum tentu dimiliki oleh setiap orang.
Berbagi, sebelum kembali ke Semarang, kami sempat berkuliah dengan Prof. Arief tentang teori ekonomi pembangunan. Prof. Arief juga berpesan kepada kami, bahwasanya kami harus rajin belajar, dan juga praktik.  Jangan hanya belajar, setelah itu tidak di aktualisasikan melalui praktik. Karena ilmu akan hilang jika tidak dimanfaatkan. Hal ini yang kemudian membuat saya pribadi semakin kagum dan memahami bahwa kecerdasan itu bukan hanya dicari dan untuk konsumsi pribadi, namun kecerdasan sejati adalah ketika kita mencari lalu kemudian berbagi.

Sehat dan saling menguatkan selalu Ibu Leila dan Prof. Arief..
Menua-lah bersama dalam kebahagiaan!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...