“Islam tidak melihat kemandirian perempuan dari aspek fisik saja. Pula, tidak melihat dari sisi seksual saja. Islam melihat perempuan pada dimensi intelektual dan dimensi spiritual. Jangan berfokus pada kekurangan diri. Buatlah diri agar selalu produktif”.
- Siti Rofi’ah (Aktivis Gender) –
Ada beberapa hal yang membuat saya sebagai penulis sadar, bahwasanya perempuan memiliki peran yang sungguh besar dalam menciptakan peradaban. Kesadaran ini saya dapatkan dari Ustadzah Siti Rofiah sebagai pemateri dalam acara mengaji Sirah Sahabiyah bertema “Wanita dalam Naungan Islam” yang dilaksanakan oleh Komunitas Hijabers Semarang. Bertempat di Masjid Baiturrahim, Minggu, 25 Agustus 2019.
Ada sebuah pertanyaan, “Siapakah Sahabat Rasulullah?”
Tentu, dengan reflek kita akan menyebutkan keempat Khulafaurrasyidin, meliputi Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Bukankah mereka semua adalah laki-laki? Disadari atau tidak, perempuan dalam kondisi apapun selalu berada dalam posisi subordinat. Terlebih, perempuan pada zaman jahiliyah mengalami penurunan derajat perempuan (dehumanisasi). Perempuan pada zaman jahiliyahh hanya dijadikan sebagai objek. Misalnya: objek seksual, objek warisan. Mulai dari warisan harta atau bahkan warisan isteri yang bisa diwariskan kepada anaknya. Penyebutan pertama kali (first thinking) ini seakan sudah mengakar kuat di alam bawah sadar manusia baik laki-laki maupun peremuan, yang kemudian pada akhirnya melupakan peran dan keberadaan perempuan.
Membicarakan perempuan Millenial (modern) tentu tak bisa lepas dari peran perempuan di zaman Rasulullah. Mengapa? Hal ini dikarenakan perempuan pada zaman jahiliyah mengalami dehumanisasi (penurunan derajat perempuan). Kemudian sejak Muhammad SAW diutus menjadi Rasul, barulah perempuan kembali mendapatkan penghormatan dan jati diri.
Sejatinya, selain Khulafaur Rasyidin, ada perempuan-perempuan yang memiliki peran besar pada zaman Rasulullah. Perempuan-perempuan ini yang kemudian bisa menjadi bahan refleksi, bahwasanya perempuan memiliki peran yang sangat besar sejak dahulu. Tiga perempuan ini banyak di jelaskan di dalam hadist, di antaranya:
1. Ummu Mahjan
Ummu Mahjan, adalah seorang marbot (pengurus masjid). Pada sebuah riwayat dijelaskan, suatu ketika Nabi bertanya kepada salah satu Sahabat menanyakan keberadaan Ummu Mahjan. Kemudian, terperanjaklah Nabi ketika mendengar bahwa Ummu Mahjan sudah meninggal. Nabi kemudian langsung meminta diantarkan ke makam dan kemudian langsung menshalati Ummu Mahjan. Hal ini menunjukkan betapa menghormatinya Nabi kepada Ummu Mahjan. Bahwasanya menjadi marbot adalah profesi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
2. Rufaidah binti Sa'ad
Rufaidan binti Sa’ad adalah perempuan pertama kali yang ahli dalam ilmu keperawatan. Rufaidah selalu mengambil peran pada setiap pelaksanaan perang. Ia mendirikan tenda untuk mengobati tentara-tentara perang yang terluka. Tidak hanya sebagai perawat, Rufaidah juga membuka klinik. Jika tidak terjadi peperangan, Rufaidah membuka jasa klinik untuk mengobati masyarakat sekitar yang sakit tanpa meminta imbalan. Rufaidah juga melakukan pengkaderan. Banyak perempuan-perempuan lain yang dididik Rufaidah dan melakukan fungsi-fungsi sosial untuk masyarakat.
Ilmu perawat ini ia dapatkan dari ayahnya seorang tabib yang kemudian memutuskan untuk melakukan pengabdian. Rasul memerintahkan para sahabat jika ada yang terluka maka berobat pada Rufaidah. Sebagai imbalan, Rasul memberikan ghanimah (harta rampasan perang) yang jumlahnya sama besarnya seperti jumlah yang diterima para Sahabat laki-laki. Pemberian harta ini oleh Rasulullah juga tidak membedakan kelas gender. Keduanya, baik laki-laki ataupun perempuan mendapatkan jumlah yang sama.
3. Ummu Fasyaroh Al Anshoriyah
Ummu Fasyaroh Al Anshoriyah, perempuan tua yang tidak memiliki keluarga. Pekerjaan sehari-hari adalah menanam kurma. Dengan sangat rajin, kurma-kurma itu tumbuh lebat dan berbuah banyak sekali. Suatu ketika Rasul datang ke kebun kurma dan menemui Ummu Fasyaroh. Betapa kagetnya Ummu Fasyaroh ketika dikunjungi Nabi, mengingat Nabi pada saat itu juga merupakan Kepala Negara. Sambil tersenyum, Nabi mengatakan “aku tidak marah kepadamu, aku hanya ingin melihat kebun mu yang sangat luar biasa”. Nabi pun bertanya wahai Ummu Fasyaroh apa yang akan kamu lakukan jika kurma mu berbuah?
Ummu Fasyaroh Al Anshoriyah pun menjawab, “Aku tidak akan menjual kurma ini. Aku akan berikan kurma ini kepada siapapun yang kelaparan, dan siapapun yang ingin memakan kurma. Karena hanya dengan kurma lah aku bisa bersedekah.”
Dari ketiga kisah itu, ada hikmah dan benang merah yang bisa dipelajari, bahwasanya:
1. Islam tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan. Di dalam Islam, perempuan tidak di diskriminasi. Kedudukannya sama dengan laki-laki, yang membedakan umat satu dengan yang lainnya bukanlah jenis kelamin, melainkan ketakwaan. Ketakwaan dimaknai sebagai menjalankan perintah dan menjauhi larangannya. Secara kontekstual, diaplikasikan sebagai memberikan kemaslahatan sebanyak-banyaknya kepada manusia lain.
2. Perempuan diberikan hak untuk bekerja di sektor publik. Islam tidak melarang perempuan untuk bekerja di luar rumah. Karena dengan begitu perempuan bisa memberikan manfaat dan kemaslahatan kepada orang lain. Perempuan yang memilik kemandirian ekonomi juga sangat dianjurkan.
Zaman Millenial adalah zaman modern. Perempuan (Muslimah) yang ideal di zaman Millenial menurut Siti Rofiah meliputi tiga aspek yakni intelektual, biologis dan spiritual. Pertama, aspek intelektual adalah aspek yang lebih menekankan pada kecerdasan berfikir, dalam hal ini perempuan jangan lelah belajar, perempuan jangan malu untuk berpendidikan tinggi. Bahkan, dalam Islam mencari ilmu sangat dianjurkan. Semakin banyak ilmu yang didapatkan, semakin banyak pula manfaat yang bisa diberikan.
Kedua, aspek biologis. Aspek biologis dalam hal ini adalah terkait dengan pemenuhan kebutuhan biologis manusia. Diantaranya, makanan dan minuman yang dikonsumsi adalah makanan yang halal dan baik (halallan thoyiban). Sehingga, dapat memberikan manfaat yang baik pula oleh tubuh.
Ketiga, aspek Spiritual. Aspek spiritual dalam hal ini seorang perempuan atau muslimah menjalankan fungsi sebagai makhluk Tuhan, baik secara horizontal maupun vertikal. Fungsi manusia secara horizontal adalah fungsi manusia dalam melaksananakan peran dan fungsinya kepada sesama manusia dan segala ciptaan Tuhan. Sedangkan fungsi manusia secara vertikal adalah fungsi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Sesungguhnya, idealitas adalah sebuah nilai universal. Idealitas adalah subjektifitas setiap manusia yang tidak bisa disamaratakan. Namun, menjadi idealitas menurut perspektif setiap pribadi hingga menjadikan dirinya sebagai perempuan yang ideal, itu sangatlah diperlukan.
Dear perempuan,
Mari menjadi ideal menurut perspektif kita masing-masing!
*Ditulis di atas meja kerja LBH Semarang
Jumat, 30 Agustus 2019 : 00;54
Komentar
Posting Komentar