Langsung ke konten utama

Temukan, dan Mari Jatuh Cinta

Pict: Penulis (Iswatun Ulia) membaca buku Qira'ah  Mubadalah
karya Faqihudin Abdul Kodir. Sebuah buku tafsir teks keagamaan keadilan relasi (kesalingan)


Saya masih ingat betul kalimat yang diucapkan oleh salah seorang yang baru saya kenal, Tommy Apriando Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Sesaat sebelum kepergiannya melakukan perjalanan kepulangannya menuju kota Bakpia (baca: Yogyakarta).

Bahwasanya, tingkat literasi saat ini mengalami degradasi. Literasi dalam hal ini diartikan sebagai kegiatan membaca, menulis dan berdiskusi. Jika dikaitkan dengan mahasiswa, tentu hal ini bukanlah sebuah hal yang asing. Apalagi bagi mereka mahasiswa yang juga mengikuti organisasi. Baik di dalam, maupun di luar kampus.

Sebagai alumni mahasiswa yang juga kebetulan terlahir dari rahim yang sama; Pers Mahasiswa (Persma), saya pun mengamini apa yang disampaikan ketua AJI tersebut. Hal yang sama pun saya rasakan. Sangat berbeda sekali kondisi saat ini dibanding kondisi saat saya masih menyandang setatus mahasiswa.

Jika harus mengingat masa sewaktu kuliah, hampir setiap hari penulis pergi ke perpustakaan universitas. Jika tidak di lantai satu, pasti di lantai dua. Dan, bisa dipastikan jika di lantai satu, penulis akan duduk di kursi pengunjung di seberang rak buku Islamic studies. Jika di lantai atas, penulis akan duduk di seberang buku Economic studies. Sembari menenteng laptop, buku tulis dan pen. Bahkan, saking hampir setiap hari pergi ke perpus, sampai salah seorang petugas perpus mafhum dengan penulis.

Sungguh sebuah alasan yang klise ketika seseorang tidak pernah membaca buku atau tidak suka membaca buku. Bagi penulis,  hal itu dikarenakan seseorang belum menemukan buku yang tepat. Penulis ingat betul sebuah quotes dari seorang perempuan progresif Najwa Shihab yang mengatakan “Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu dan mari jatuh cinta.”

Membaca buku memang sudah harus menjadi hal yang harus dibiasakan oleh siapapun. Bukan kemudian menafikan kecanggihan teknologi yang semakin memudahkan masyarakat. Namun, tidak ada yang menjamin seseorang yang kemudian membuka smartphone dari niat awal membuka platform berita atau jurnal, kemudian beralih membuka sosial media yang lain. Bahkan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menjadi stalker akun sosial media orang lain, yang tak jarang justru membuat orang itu merasa iri dan kemudian membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Memanualkan apa yang sudah instan nampaknya memang perlu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Andy Panca Kurniawan seorang jurnalis pula pendiri Watchdoc. Membaca buku juga salah satu diantaranya. Bagaimana tidak dikatakan manual? Seseorang yang membaca buku tentu harus mencari, membeli, membawa, dan membuka lembaran-lembaran buku di manapun dan kapan pun. Jika ingin segera khatam, maka dibutuhkan jam terbang yang tinggi untuk meluangkan waktu membaca. Bahkan, tak jarang, apa yang sudah dibatasi jika tidak diberi tanda akan lupa dan kemudian harus mengulang apa yang sudah dibaca. Sungguh sangat manual!

Modernitas kehidupan ditambah dengan kecanggihan teknologi  yang saat ini tengah berlangsung juga mengakibatkan terjadinya distorsi informasi. Informasi tidak sampai seutuhnya terhadap komunikan. Bahkan, tak jarang informasi kemudian di potong-tambah yang pada akhinrya menyebabkan hoax menjamur di mana-mana. Mengakibatkan salah paham, perpecahan, dan bahkan mengancam persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui membaca buku, diharapkan seseorang dapat melakukan filterisasi informasi dan dapat menyampaikan informasi secara utuh. Kritis terhadap segala informasi apapun juga dapat berasal dari membaca buku.

Mulai dari sekarang, mari bersama penulis untuk membiasakan diri. Membiasakan membawa buku yang kemudian dengan sengaja buku itu dimasukan ke dalam tas. Satu saja, sudah lebih dari cukup. Ambil dan buka lembar demi lembar buku itu ketika kau sedang menunggu, ambil dan buka lembaran demi lembaran buku itu ketika kau sedang kecewa. Ambil dan buka lembaran demi lembaran itu ketika kau sedang bersedih, bahkan ambil dan buka lembaran demi lembaran buku itu saat kau sedang berbahagia.

Jangan pernah membatasi diri untuk selalu berkembang. Cari buku itu, dan Mari Jatuh Cinta!
Semarang, 01 September 2019
(Ditulis di Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) eLSA Puteri; 00:06) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...