Langsung ke konten utama

Menjaga Kewarasan Diri

source: www.pixabay.com

Dear Encycofeedia readers,

Bagaimana kabar mu hari ini?
Apakah hari ini kau merasa bahagia?
Atau bahkan justru kau bersedih dan mengkhawatirkan sesuatu hal?

Situasi bahagia, sedih atau mengkhawatirkan sesuatu adalah hal yang wajar. Hal ini karena manusia diberikan kemampuan untuk berfikir, yang kemudian menjadikan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sangat spesial dan berbeda dengan ciptaan Tuhan yang lain. Namun, sadarkah kita bahwasanya kemampuan berfikir ini yang kemudian justru dalam keadaan tertentu seringkali menjadi racun (toxic) dalam diri? Bagaimana tidak? Coba, bisakah kita menghitung berapa kali kita berfikir dalam sehari? Lebih banyak mana, berfikir positif atau berfikir negatif?

Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika seseorang lebih sering menggunakan otaknya untuk berfikir negatif. Jika tidak segera diatasi, dalam jangka panjang toxic dalam diri ini akan semakin menyebar hingga mengganggu saraf yang kemudian dapat mengakibatkan kegilaan atau bahkan kematian. Hal itu bisa saja terjadi bukan?

Nah, kemudian bagaimana sih cara agar kita bisa menjaga kewarasan dalam diri? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Dan hal ini pula yang saat ini sedang penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni meliputi:

Pertama; Mencintai Diri

Manakah yang lebih penting, mencintai diri atau mencintai pasangan?
Bagi sebagian orang tentu akan menjawab mencintai diri, dan bagi sebagian yang lain bukan tidak mungkin akan memilih opsi yang kedua. Dan bagi semua orang, tentu akan mencintai selain keduanya, yakni orang tua, saudara dan anggota keluarga pada umumnya. Dan itu, adalah jawaban yang tidak bisa diganggu gugat. Mencintai diri adalah kemampuan menerima segala keadaan diri tanpa syarat.

Namun seberapa penting sih mencintai diri?

Menurut seorang Psikolog, Stephani Kang menjelaskan bahwa menjalin hubungan dengan diri sendiri adalah hal yang paling penting di bumi ini. Mengapa demikian?

Memiliki hubungan yang baik dengan diri sendiri akan membantu seseorang menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Hal ini dikarena seseorang yang mencintai dirinya akan merasa nyaman terhadap dirinya dan akan membawa aura positif terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan hal ini pula yang akan membuat orang lain nyaman apabila berada di dekat orang yang mampu mencintai diri.  Sederhananya, seseorang harus bisa mencintai diri sebelum mencintai orang lain. Jangan kebalik, ya.

Kedua; Bersyukur

Perihal kedua ini sepertinya memang sepele. Tapi apakah setiap orang kemudian menyadari dan melakukan hal ini? Mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, kepada diri sendiri, dan orang lain. Berterimakasih kepada Tuhan, karena kita masih diberikan kesempatan untuk bisa bernafas. Menikmati udara yang berhembus, melihat keindahan bulan, bintang dan segala pernak-perniknya di malam hari, atau bahkan organ dalam diri yang masih berfungsi normal. Tentu hal inilah yang kemudian tidak bisa diukur dan dibayar dengan materi.

Mengucapkan terimakasih kepada orang lain tentu siapapun bisa melakukan hal ini. Karena ucapan terimakasih adalah bentuk penghargaan kepada orang lain yang siapapun bisa melakukannya secara gratis. Tak kalah penting, adalah mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri. Terimakasih kepada diri karena mampu bertahan sampai detik ini. Terimakasih kepada diri karena mampu menguatkan diri walau pada titik terlemah sekalipun.

Jadi, sudahkah encycofeedia readers mengucapkan terimakasih kepada diri sendiri? Jika belum, mari bersama penulis belajar melakukan hal ini.

Ketiga; Meminta maaf

Setelah mengucapkan terimakasih, selanjutnya adalah meminta maaf. Permintaan maaf ini bukan hanya saat kita melakukan kesalahan kepada orang lain. Meminta maaf kepada diri sendiri juga perlu dilakukan. Bahkan sangat perlu. Seringkali, kita menuntut suatu hal yang begitu besar tanpa mempertimbangkan kemampuan yang kita miliki. Dan pada akhirnya, saat sesuatu hal itu tidak tercapai, kita akan merasa kecewa. Menganggap bahwa diri kita bodoh, tidak mampu, marah bahkan kecewa terhadap diri sendiri. Memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain adalah salah satu cara untuk berdamai dengan kekecewaan. Pula, berdamai dengan mimpi-mimpi yang belum tercapai.

Keempat; Yakin akan kemampuan diri

Merasa minder dan tidak percaya diri tentu setiap orang pernah mengalaminya. Namun, apakah kemudian kita akan terus berada pada posisi ini? tentu tidak bukan?

Salah satu penyebab seseorang tidak percaya diri adalah bahwasanya ia tidak yakin terhadap kemampuan diri. Mereka hanya berfokus pada kekurangan diri dan selalu membanding-bandingkan keadaan diri dengan orang lain. Padahal sesungguhnya, setiap orang memiliki sesuatu hal yang tidak dimiliki orang lain. Penulis meyakini bahwasanya setiap orang sudah diciptakan Tuhan dengan segala potensi yang ia miliki. Kita hanya perlu memetakan segala potensi itu hingga akhirnya menjadi kekuatan dan pembeda antara seseorang dengan yang lainnya.

Dear encycofeedia readers,

Keempat hal ini lah yang kemudian perlu kita sadari dan kemudian kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga pada akhirnya menjadi suatu kebiasaan (habbit) yang apabila tidak dilakukan akan terasa ada sesuatu hal yang kurang. Segala sesuatu dimulai dari belajar, dan belajar itu tidak terikat oleh usia, ruang dan waktu.

Selamat belajar!

***
Semarang, 20 September 2019; 22:10
Ditulis sepulang kerja, di atas meja panjang Kafe Mahasiswa, Beringin.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...