Dear Encycofeedia readers,
Bagaimana kabar mu hari ini?
Apakah hari ini kau merasa bahagia?
Atau bahkan justru kau bersedih dan mengkhawatirkan sesuatu hal?
Situasi bahagia, sedih atau mengkhawatirkan sesuatu adalah hal yang wajar.
Hal ini karena manusia diberikan kemampuan untuk berfikir, yang kemudian
menjadikan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sangat spesial dan berbeda dengan
ciptaan Tuhan yang lain. Namun, sadarkah kita bahwasanya kemampuan berfikir ini
yang kemudian justru dalam keadaan tertentu seringkali menjadi racun (toxic) dalam diri? Bagaimana tidak? Coba,
bisakah kita menghitung berapa kali kita berfikir dalam sehari? Lebih banyak
mana, berfikir positif atau berfikir negatif?
Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika seseorang lebih sering menggunakan
otaknya untuk berfikir negatif. Jika tidak segera diatasi, dalam jangka panjang
toxic dalam diri ini akan semakin
menyebar hingga mengganggu saraf yang kemudian dapat mengakibatkan kegilaan
atau bahkan kematian. Hal itu bisa saja terjadi bukan?
Nah, kemudian bagaimana sih cara agar kita bisa menjaga kewarasan dalam
diri? Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Dan hal ini pula yang saat ini
sedang penulis terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni meliputi:
Pertama; Mencintai Diri
Manakah yang lebih penting, mencintai diri atau mencintai pasangan?
Bagi sebagian orang tentu akan menjawab mencintai diri, dan bagi sebagian
yang lain bukan tidak mungkin akan memilih opsi yang kedua. Dan bagi semua
orang, tentu akan mencintai selain keduanya, yakni orang tua, saudara dan
anggota keluarga pada umumnya. Dan itu, adalah jawaban yang tidak bisa diganggu
gugat. Mencintai diri adalah kemampuan menerima segala keadaan diri tanpa
syarat.
Namun seberapa penting sih mencintai diri?
Menurut seorang Psikolog, Stephani Kang menjelaskan bahwa menjalin hubungan
dengan diri sendiri adalah hal yang paling penting di bumi ini. Mengapa
demikian?
Memiliki hubungan yang baik dengan diri sendiri akan membantu seseorang
menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Hal ini dikarena seseorang
yang mencintai dirinya akan merasa nyaman terhadap dirinya dan akan membawa
aura positif terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Dan hal ini pula yang
akan membuat orang lain nyaman apabila berada di dekat orang yang mampu mencintai
diri. Sederhananya, seseorang harus bisa
mencintai diri sebelum mencintai orang lain. Jangan kebalik, ya.
Kedua; Bersyukur
Perihal kedua ini sepertinya memang sepele. Tapi apakah setiap orang
kemudian menyadari dan melakukan hal ini? Mengucapkan terimakasih kepada Tuhan,
kepada diri sendiri, dan orang lain. Berterimakasih kepada Tuhan, karena kita
masih diberikan kesempatan untuk bisa bernafas. Menikmati udara yang berhembus,
melihat keindahan bulan, bintang dan segala pernak-perniknya di malam hari,
atau bahkan organ dalam diri yang masih berfungsi normal. Tentu hal inilah yang
kemudian tidak bisa diukur dan dibayar dengan materi.
Mengucapkan terimakasih kepada orang lain tentu siapapun bisa melakukan hal
ini. Karena ucapan terimakasih adalah bentuk penghargaan kepada orang lain yang
siapapun bisa melakukannya secara gratis. Tak kalah penting, adalah mengucapkan
terimakasih kepada diri sendiri. Terimakasih kepada diri karena mampu bertahan
sampai detik ini. Terimakasih kepada diri karena mampu menguatkan diri walau
pada titik terlemah sekalipun.
Jadi, sudahkah encycofeedia readers mengucapkan terimakasih kepada diri
sendiri? Jika belum, mari bersama penulis belajar melakukan hal ini.
Ketiga; Meminta maaf
Setelah mengucapkan terimakasih, selanjutnya adalah meminta maaf.
Permintaan maaf ini bukan hanya saat kita melakukan kesalahan kepada orang
lain. Meminta maaf kepada diri sendiri juga perlu dilakukan. Bahkan sangat
perlu. Seringkali, kita menuntut suatu hal yang begitu besar tanpa
mempertimbangkan kemampuan yang kita miliki. Dan pada akhirnya, saat sesuatu
hal itu tidak tercapai, kita akan merasa kecewa. Menganggap bahwa diri kita
bodoh, tidak mampu, marah bahkan kecewa terhadap diri sendiri. Memaafkan diri
sendiri dan memaafkan orang lain adalah salah satu cara untuk berdamai dengan
kekecewaan. Pula, berdamai dengan mimpi-mimpi yang belum tercapai.
Keempat; Yakin akan kemampuan diri
Merasa minder dan tidak percaya diri tentu setiap orang pernah
mengalaminya. Namun, apakah kemudian kita akan terus berada pada posisi ini?
tentu tidak bukan?
Salah satu penyebab seseorang tidak percaya diri adalah bahwasanya ia tidak
yakin terhadap kemampuan diri. Mereka hanya berfokus pada kekurangan diri dan selalu
membanding-bandingkan keadaan diri dengan orang lain. Padahal sesungguhnya,
setiap orang memiliki sesuatu hal yang tidak dimiliki orang lain. Penulis
meyakini bahwasanya setiap orang sudah diciptakan Tuhan dengan segala potensi
yang ia miliki. Kita hanya perlu memetakan segala potensi itu hingga akhirnya
menjadi kekuatan dan pembeda antara seseorang dengan yang lainnya.
Dear encycofeedia readers,
Keempat hal ini lah yang kemudian perlu kita sadari dan kemudian kita
terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hingga pada akhirnya menjadi suatu
kebiasaan (habbit) yang apabila tidak
dilakukan akan terasa ada sesuatu hal yang kurang. Segala sesuatu dimulai dari
belajar, dan belajar itu tidak terikat oleh usia, ruang dan waktu.
Selamat belajar!
***
Semarang, 20 September 2019; 22:10
Ditulis sepulang kerja, di atas meja panjang Kafe Mahasiswa, Beringin.
Komentar
Posting Komentar