![]() |
| source: www.pixabay.com |
Dear encycofeedia readers,
Pernahkah kamu berdandan? Dan respon apa yang kamu dapatkan dari orang
di sekitaran?
Suatu ketika, pertanyaan seperti ini pernah saya tanyakan kepada teman
perempuan saya. Dan kemudian ia pun bercerita bahwasanya dia pernah mendapatkan
respon negatif dari orang lain (laki-laki) yang melihat. Kurang lebih responnya
begini “Ngapain sih kamu dandan, laki-laki itu lebih suka sama cewek yang gak
dandan. Cantiknya natural”. He said that!
Sontak, mendengar cerita ini dari teman perempuan saya, saya ingin marah. Rasanya,
saya ingin mengajak laki-laki itu duduk bareng, ngopi dan kemudian berdiskusi.
Menanyakan mengapa pemikirannya begitu sempit dalam menilai perempuan. (Dalam
bahasa Jawa : Cupet).
Tapi baiklah, satu jawaban dari seseorang tidak kemudian merepresentasikan
pandangan laki-laki yang jumlahnya sangat banyak di jagad raya ini. Namun,
dalam tulisan ini saya ingin sharing. Berbagi rasa melalui tulisan, agar kita
bisa saling mengerti. Agar kita bisa saling memahami. Dan tidak menjudge seseorang atas penampilannya. Baik
laki-laki kepada perempuan atau perempuan kepada laki-laki.
Jadi reader(s),
Dandan bagi perempuan adalah suatu hal yang sangat penting.
Penyebutan dandan, tidak hanya terbatas pada bedak, lipstik, eye liner,
mascara, blush on, dan seperangkat alat make up atau skin care yang lainnya.
Melainkan dandan juga termasuk di dalamnya adalah pakaian yang rapi dan bersih,
menjaga kulit agar selalu lembap, dan menggunakan parfum. Dandan adalah segala
sesuatu yang bisa menjadikan seseorang semakin percaya diri dan nyaman dengan
penampilannya. Agar, selain nyaman di kenakan oleh diri sendiri, juga nyaman
dilihat orang lain. Terus kamu bertanya, “Oh, jadi bener dong dandan untuk
orang lain?!”.
Oh God! Sungguh, bukan begitu Sayang..
Saya mengatakan hal itu karena manusia hidup di dunia sebagai makhluk
sosial. Ya mau tidak mau, suka atau tidak suka, kamu harus berhadapan, bertemu,
dan berinteraksi dengan orang lain. Secara otomatis, mereka akan melihat kamu
dan penampilan mu. Bukankah sebuah pepatah pernah mengatakan firs looks make impression. Apa yang
dilihat pertama kali akan menimbulkan kesan tersendiri bagi seseorang. Jika
penampilanmu rapi, maka orang pun akan menganggap bahwasanya memang kamu adalah
orang yang rapi. Jadi, kalau kita bisa berpenampilan
rapi, kenapa tidak?
Terkait dandan untuk orang lain, sungguh aku adalah orang yang pertama kali
akan menentang premis itu. Mengapa? Karena saya pribadi akan berkaca kepada
diri saya sendiri. Saya adalah seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Jika
ada standar kecantikan seorang perempuan, bisa saja saya tidak masuk dalam
kategori itu. Namun, apakah kemudian perempuan yang cantik saja, yang boleh berdandan?
Atau perempuan yang biasa atau jelek saja yang boleh dandan? Pasti kau pun akan
menjawab tidak. Semua perempuan boleh berdandan. Iya kan? Toh, cantik adalah
subjektifitas seseorang. Cantik bagi A pasti berbeda dengan cantik menurut B.
Tidak dinafikkan, perempuan berdandan untuk orang lain (laki-laki) memang
ada. Tapi perempuan yang berdandan untuk diri sendiri juga banyak kok. Buktinya,
banyak juga perempuan di luaran sana yang berdandan tapi pada akhirnya wajah
mereka juga ditutupi menggunakan niqab/cadar. Bahkan, penulis pribadi merasakan
hal yang sangat berbeda ketika berdandan. Berdandan bagi penulis adalah sebagai
salah satu cara untuk menjemput bahagia. Ada rasa bahagia yang reflek keluar
saat penulis bisa mengusapkan handbody ke atas tubuh sembari mencium aroma
wangi produk itu, bahagia saat bisa mendaratkan lipstik di atas lekuk bibir,
mempertebal bulu mata menggunakan mascara, menyemprotkan parfum di tubuh dan
pakaian, dan lain sebagainya. Semua penulis lakukan, meski tidak pergi ke luar
rumah. Bahkan, meski hanya untuk menyapu dan mengepel rumah. Tapi, penulis
yakin bahwasanya hal ini tidak hanya dialami dan dirasakan oleh penulis saja,
tapi juga perempuan-perempuan lain di luar sana.
Ritual dandan dilakukan perempuan sejak bangun pagi sampai pada kembali
tidur di malam hari. Eits, namun bukan berarti kemudian selama satu hari full
itu digunakan untuk berdandan loh ya. Tidak begitu. Ada banyak hal positif juga
kok yang bisa dilakukan setelah berdandan. Entah itu bekerja, memasak,
membersihkan rumah, membaca, menulis, berdiskusi, bertemu stake holder, dan
lain sebagainya. Bahkan, ritual dandan dalam hal ini membersihkan wajah, memakain
toner, memakai krim, dan sebagainya yang dilakukan sebelum tidur juga merupakan
kepuasan tersendiri. Dibanding dengan mereka yang kelelahan dan tidur dengan
make up yang masih menempel seharian.
Jadi, sekali lagi dandan adalah tentang self
satisfaction! Kepuasan yang ada di dalam diri sendiri. Kepuasan yang akan
datang jika kita bisa melakukannya untuk diri sendiri. Bukan dari atau bahkan
untuk orang lain. Perkara kemudian ada orang lain yang memuji, atau tertarik
kepada perempuan itu, ya itu adalah bukti bahwasanya kamu adalah pribadi yang
menyenangkan. Dan itu, di luar dari kekuasaaan diri. Toh, sudah diniatkan dari
awal bahwa semua yang dilakukan adalah untuk diri sendiri, memberikan segala
hal yang terbaik untuk diri.
Dan pada hakikatnya dandan juga tidak terbatas pada jenis kelamin kok. Baik
perempuan atau laki-laki semua dipersilakan untuk berdandan. Semua memiliki hak
untuk berdandan sesuai dengan keinginan dan kepantasannya. Karena semua adalah
tentang rasa. Seseorang akan cenderung merasa feel good (memiliki perasaan yang
baik/moody) ketika look good (terlihat bagus/rapi) dan dengan begitu akan lebih
mudah do good (melakukan hal-hal yang baik).
Jadi, selamat berdandan!
Selamat berbahagia, ya Sayang!
(Ditulis di Meja Kerja,
Semarang, 26 Oktober 2019 ; 16:03)

Komentar
Posting Komentar