![]() |
| source : google.com (Penulis: Iswatun Ulia) |
"What is masculinity is what men
and woman do rather than what they are"
(Maskulinitas adalah apa yang
dilakukan oleh laki-laki dan perempuan)
-
Morgan (Beynon, 2007)
Hari ini, saya ditugaskan untuk mengikuti training of trainer (ToT) di salah satu bagian dari Ibu Kota
Jakarta. Perjalanan ditempuh dengan menggunakan salah satu maskapai penerbangan
Indonesia. Hidup adalah perjalanan, sebagaimana artikel yang pernah saya
tuliskan di laman sebelumnya tempo lalu. Sebagaimana layaknya perjalanan, tentu
ada hal baru yang bisa kita dapatkan dan pelajari. Entah apapun itu, semua
bergantung pada subjek yang yang terlibat di dalamnya.
Lagi-lagi, kembali saya menjadi observer pada keadaan yang memaksa. Mengapa?
Karena tidak ada hal lain yang bisa saya lakukan ketika buku tidak terbawa di
dalam tas. Dan dalam situasi seperti ini, ingin rasanya saya mengutuk keadaan. “Sial,
aku harus menjadi pecundang waktu”! batinku.
Mendengarkan musik bisa saya
lakukan, namun tidak ada hal yang bisa saya dapatkan lebih, kecuali hanya
sebuah hiburan dan pelampiasan situasi. Berselancar di media sosial bisa juga
dilakukan, namun sebagai passanger
yang baik, tentu harus mematuhi peraturan untuk tidak mengaktifkan handphone.
Tidur? Sangat bisa dilakukan, namun untuk perjalanan yang hanya cukup
membutuhkan waktu satu jam, sangat sayang untuk dilewatkan.
Menjadi observer non profesional tentu bisa dilakukan siapapun, dan menjadi
pilihan terakhir saya ketika lupa membawa buku bacaan. Dan pada pagi tadi, ada
satu hal yang menarik untuk diperhatikan. Adalah mereka mbak-mbak Pramugari.
Perempuan berpostur tinggi, berkulit putih bersih, berparas cantik dan memiliki
senyum menawan tentu membuat siapapun ingin memandang, tidak terbatas pada
mereka laki-laki tapi juga perempuan. Namun, bukan perkara idealitas perempuan
yang ingin saya narasikan di sini, melainkan ada sesuatu hal yang lain, yakni maskulinitas.
Mungkin kau akan bertanya, “memang ada perempuan maskulin? Atau masa sih
mbak-mbak pramugari yang berpenampilan feminin itu bisa maskulin?”
Maskulin adalah hal-hal atau sifat-sifat yang disematkan pada laki-laki
berdasarkan konstruksi sosial. Sebagaimana maskulinitas menurut Kimmel dan Aronson,
bahwasanya maskulin merupakan konsep tentang peran sosial, perilaku, dan
makna-makna tertentu yang dilekatkan pada laki-laki diwaktu tertentu.
Simpelnya, maskulin adalah konstruksi kelelakian yang disematkan terhadap
laki-laki. Jadi, bayi laki-laki yang lahir, tidak kemudian begitu saja secara
alami memiliki sifat-sifat maskulin, melainkan terbentuk oleh budaya dan
konstruksi sosial masyarakat. Lantas, apa hubungannya dengan mbak-mbak
Pramugari?
Baik, mari kita tengok sebentar tentang sifat-sifat maskulinitas laki-laki.
Disini, penulis menggunakan teori sifat-sifat maskulinitas yang dikemukakan
oleh David dan Branon. Dan kemudian menyoba untuk menyandingkan (sounding) dengan praktik pramugari yang (tidak
sengaja) menjadi objek pengamatan penulis pagi tadi.
Menurut David dan Branon, ada beberapa sifat maskulinitas di antaranya; tidak
menggunakan barang-barang perempuan (No
sissy stuff), menjadi seseorang dan tokoh yang penting (Be a big wheel), menjadi seseorang yang
memiliki kekuatan dan kemandirian (be a
study oark), menunjukkan keberanian
(give em hell). Berdasarkan sifat-sifat ini, penulis kemudian berpikir
bahwasanya maskulinitas tidak hanya dimiliki oleh laki-laki saja, melainkan
juga perempuan.
Bagaimana tidak? Keberanian, kemandirian, dan kekuatan juga dimiliki oleh
para pramugari itu. Bahkan, sangat terlihat jelas. Tentang mereka yang harus
terpisah dengan keluarga, saudara, dan orang-orang terkasih sekitar, sehingga
harus bertahan dan hidup mandiri. Tentang mereka yang melayani seluruh passanger, bahkan harus mengangkat barang
bawaan (baggage) penumpang sampai berkilo-kilo untuk dimasukaan ke dalam
bagasi, mulai dari bagasi penumpang kelas business
sampai ekonomi. Dan pada saat itu, penulis tidak melihat pramugara atau petugas
lain (laki-laki) yang membantu, meski ada dan bisa membantu. Bahkan kekuatan
itu sangat terlihat jelas ketika ada banyak passanger laki-laki (bahkan
berpostur tinggi besar) yang menyerahkan barang bawaan (yang sayapun tidak bisa
mengira-ngira berapa berat dan kapasitasnya) kepada pramugari untuk dimasukkan
ke dalam bagasi penumpang yang jaraknya cukup tinggi. Dan itu dilakukan
sendiri, tanpa mereka berinisiatif untuk membantu.
Jadi, dibalik dibalik penampian rapi, badan ramping, dan paras cantik (baca: feminin) sesungguhnya
mereka adalah pribadi yang maskulin. Maskulinitas yang tersembunyi dibalik
blush on dan eye shadow. So, today's
lesson is never to judge someone's personality only by what is inherent.
Tumbuh subur, perempuan-perempuan maskulin!
(Dinarasikan di Yasmin Hotel,
Tangerang, 06 November 2019 ; 01:20)

Komentar
Posting Komentar