Langsung ke konten utama

Cerai, Harta gono-gini dan Trauma Perempuan

Pixabay.com


Tragedi ketidaksengajaan handphone yang tertinggal di kantor, mengantarkan langkah kaki ku pada suatu ruang. Ruang itu adalah ruang multifungsi yang digunakan untuk ruang perpustakaan, sekaligus ruang konsultasi bagi client yang ingin menceritakan permasalahannya sekaligus memohon bantuan hukum.

Jam menunjukkan pukul 15.30 sore. Di luaran, awan tampak gelap, dan angin bertiup agak kencang. Tanda hujan akan turun. Bisikan hati, memilih menunda  pulang ke rumah, untuk menghindari hujan, dan hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan. Meski jas hujan sebenarnya tersimpan rapi di dalam jok motor.

Merasa bosan dengan aktivitas scrolling layar handphone, aku pun memutuskan untuk pergi menuju ruang perpustakaan itu. Sembari mencari buku tentang keperempuanan (feminism), yang bisa kunikmati di sore hari itu. Namun ternyata, buku itu tak kutemukan.

Ku buka tirai jendela yang agak tertutup rapat itu agar pandangan mata tampak lebih leluasa. Agar aku, bisa menikmati hujan yang turun. Batinku.

Ku tarik kursi agak merapat dengan sisi meja, untuk menyamankan diriku duduk di dalam ruangan itu. Sendiri. Ku ambil buku tentang hukum dan peraturan Undang-undang yang berjejer tak teratur di meja sembari kurapikan. Lembar per lembar ku buka dan ku pahami isi buku itu.  Namun ternyata, mempelajari hal baru yang bukan menjadi background pendidikan ataupun passion memang dibutuhkan usaha yang lebih. Sampai pada akhirnya aku memilih untuk menutup buku itu dan mengalihkan pandanganku pada lembaran-lembaran kertas yang berada di meja lain.

Lamat-lamat ku baca dan perhatikan, ternyata lembar itu berisi tentang data diri client berkonsultasi.  Sampai pada akhirnya kutemukan sebuah surat keterangan yang menjelaskan bahwa perceraian telah sah dan si perempuan itu pula telah mendapatkan status sebagai “janda”.  Iya, tulisan “Janda” itu tertulis jelas, di dalam kotak, tanpa salah huruf sedikit pun.  
Hatiku seketika tak karuan membaca tulisan status diri dalam kotak itu. Aku tidak tahu, dan kemudian bertanya, apakah pada surat keterangan yang dimiliki laki-laki juga bertuliskan status “Duda”? jika iya, ingin sekali aku melihat. Tapi jika tidak, sungguh ini tidak adil.  Ketidak adilan yang harus diterima perempuan.

Mata ku nanar, tak habis rasa penasaranku. Ku baca lagi, dan lagi. Ku kira permasalahan akan selesai hanya pada status perceraian, ternyata tidak. Pembagian harta gono-gini adalah inti dari keinginan client.

Harta gono-gini adalah harta milik bersama dari suami dan isteri yang mereka peroleh selama perkawinan. Kubaca list benda atau harta yang mereka miliki mulai dari huruf a sampai entah huruf apa. Berikut dengan nilai nominal kisaran harganya. Aku membatin, ini adalah harta yang mereka miliki bersama. Ini adalah hasil yang mereka kumpulkan meski harus merasakan lelah. Dan sekarang, lelah itu harus dibayar dengan perpisahan, konflik dan bahkan saling menggugat? Ya Tuhan, ini sungguh sangat menyesakkan bagiku. Bagiku sebagai seorang perempuan.  Perempuan, yang sedang merasakan kondisi perempuan lain yang dalam hal ini, sebagai tergugat. Aku diam, tak mendengar apapun, meski lagu tashoora dalam handphone sedang mengalun.

***
Cerai, adalah bagian dari fenomena permasalahan sosial bagi mereka laki-laki dan perempuan yang sudah terikat dalam ikatan perkawinan. Bagi sebagian banyak perempuan, cerai meninggalkan traumatis tersendiri. Bahkan, bagi diriku pribadi yang belum pernah menjalin relasi dengan siapapun. Menjadikan ku berkaca, bahwasanya menjalin relasi yang sah dalam agama dan diakui negara pun tidak mudah. Tidak  hanya bagi perempuan, laki-laki pun mungkin mengalami hal yang sama. Namun, jarang sekali aku mendengar. Seringkali, yang kudengar adalah mereka (laki-laki) yang bercerai atau ditinggalkan isteri karena meninggal dengan mudahnya menikah lagi dengan perempuan lain. Ah, entahlah.

Semoga, mereka (para pengabdi bantuan hukum) yang menerima konsultasi client dalam ranah keluarga, baik perceraian, relasi, atau apapun, selalu diberikan hati dan telinga yang kuat. Agar bisa dengan lapang mendengarkan cerita dan memberikan ruang sempit dalam hatinya untuk bisa berbagi kesedihan. Sesungguhnya, tidak ada yang lebih baik dan ‘arif, selain mengambil pelajaran dari apa yang sudah di dengar dan diketahui. Agar, hal serupa tidak terjadi dalam diri.

*Sedikit narasi pada malam yang dingin di Kota Lumpia
Semarang-YPK eLSA Puteri, 22 Desember 2019; 19:44


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...