![]() |
| Source : Pixabay.com |
“Pekerjaan
paling berat adalah menjadi orang tua.
Karena
menjadi orang tua, adalah pekerjaan seumur hidup”
Hari ini, aku mencoba memeluk perempuan lain. Dengan cara
apa? Menanyakan kabar dan kondisinya sekarang. Sederhana, memang. Jarak yang
cukup jauh menjadikan teks yang dibalut dalam kecanggihan teknologi sebagai
media yang paling mudah untuk saling bertukar kabar maupun informasi.
Terhitung sudah sekitar tiga bulan tidak lagi tinggal
satu atap, membuatku ingin mendengar cerita dan kondisinya sekarang. Hanya
sekadar ingin mendapat kepastian bahwasanya dia sedang baik-baik saja dan
nyaman dengan kehidupannya sekarang. Namun ternyata dugaanku salah. Semua tidak
sama dengan apa yang aku pikir dan harapkan.
Aku begitu sangat penasaran, apa sebenarnya yang
menyebabkan ia hingga ingin pergi untuk merantau kembali, setelah empat tahun
berada di Kota Lumpia, Semarang untuk menyelesaikan pendidikan. Bukankah bagi
sebagian orang, hidup bersama dengan orang tua (keluarga) adalah kebahagiaan
yang tak bisa diukur dengan materi? Bukankah berkumpul bersama keluarga adalah
tempat paling nyaman dan merupakan keinginan semua orang? Tanyaku dalam
batin.
Hingga pertukaran teks itu terus dilakukan, sampailah
pada sebuah kalimat yang membuatku tahu apa penyebabnya. Adalah pernikahan. Aku
pun terdiam. Seketika napas ku berhenti membaca kalimat tanpa titik itu. Selang
beberapa detik kemudian, aku menarik nafas cukup panjang. Mencoba untuk
menenangkan, baik untuk diriku sendiri dan untuk dirinya yang sedang berada di
seberang sana.
Hidup di dalam masyarakat tradisionalis membuat perempuan
merasa hidup di dalam kubangan patriarkhi. Menikah dini dianggap biasa dan
lumrah bagi masyarakat desa. Sedang tidak menikah dianggap tabu dan menjadi
perempuan tidak laku. Tentang “Kapan menikah”, seakan menjadi pertanyaan wajib
yang harus dilontarkan pada perempuan lain yang menurut pandangan masyarakat
sekitar sudah pantas menikah, tapi pada kenyataannya dia masih belum terikat
pernikahan. Dan lebih disayangkan lagi yang menanyakan adalah mereka yang
berjenis kelamin perempuan pula, baik tetangga, saudara bahkan keluarga
sendiri. Bagi mereka yang belum siap, pertanyaan itu begitu mengerikan, seperti
monster.
Di tengah pertukaran teks itu, membuatku kemudian
berefleksi atas situasi dan kondisiku saat ini. menjadikan ku sangat bersyukur
terlahir dari rahim orang tua yang sampai saat ini tidak pernah menanyakan tentang
pasangan hidup. Pertanyaan tentang kapan menikah, bertanya tentang sudah punya
pacar atau belum, atau bahkan yang lebih simpel adalah pertanyaan sedang dekat
dengan siapa. Mereka tidak pernah mempersoalkan.
Aku sangat memahami betul, bahwasanya mereka sangat
menghargai segala hal apa yang menjadi pilihan hidup ku. Baik pendidikan,
karir, bahkan nantinya tentang pasangan hidup. Mereka, memberikan kebebasan
sepenuhnya pada diriku untuk memilah dan memilih. Sebagai pemegang otoritas
penuh, tentu aku tidak akan sembarang
menggunakan previllage ini. Bebas,
bukan berarti melanggar batas. Melainkan bebas, namun dengan tetap disertai
tanggungjawab. Bahkan, menjadi single selama 24 tahun pun memang menjadi pilihan
ku sendiri.
Menjadi
bahagia, tidak hanya dengan menikah
Pertanyaan kapan menikah, bagi sebagian orang adalah
momok yang menakutkan. Tidak terkecuali bagi perempuan. Bukan perkara sudah ada
pasangan atau belum. Bukan pula tentang tingkat kemapanan diri maupun calon
pasangan. Ada hal-hal lain yang masih dipertimbangkan; keinginan untuk tetap
belajar, meniti karir, atau bahkan pengalaman traumatis yang pernah dialami
oleh perempuan saat menjalin relasi dengan pasangan sebelumnya. Tidak semua
orang bisa menerima rasionalisasi tersebut memang, tapi seringkali memang ada beberapa
hal yang hanya bisa dimengerti oleh perempuan itu sendiri.
Pernikahan ideal bagi diriku pribadi bukanlah tentang tercapainya
target usia menikah, bukan pula tentang seberapa banyak materi yang dimiliki
untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, Pernikahan ideal adalah tentang seberapa
siap kamu bisa menerima diri maupun menerima pasangan. seberapa kuat kamu bisa
saling mendukung (support) aktivitas positif satu dengan yang lain, seberapa siap
bisa saling berbagi peran di dalam rumah tangga, juga seberapa besar keinginan satu dengan yang
lain untuk bisa terus belajar. Belajar bukan hanya dalam lingkup akademis, melainkan
belajar dalam lingkup yang lebih luas; belajar untuk bisa saling memaknai
kehidupan.
Dear perempuan-perempuan di belahan bumi manapun,
Menjadi bahagia tidak hanya ditempuh dengan jalan
menikah. Ada banyak hal yang bisa membuat mu bahagia. Menerima diri mu sendiri
tanpa syarat, tidak pernah membandingkan diri dengan orang lain, menyadari
sepenuhnya kehadiran orang-orang di sekitar, baik teman, sahabat, saudara,
keluarga dan orang-orang terkasih lainnya, melakukan hal-hal yang menjadi
hobby, berada dan menciptakan ruang-ruang belajar dengan berdiskusi, membaca
buku, menulis atau bahkan dengan memberikan dukungan kepada perempuan lain.
Yang seringkali terlupakan adalah bahwasanya, hidup ini
bukan hanya tentang laki-laki dan perempuan. Bukan hanya tentang relasi antara
perempuan dan laki-laki (baca: pacaran). Hidup ini tidak sesimpel dan sebodoh
itu. Masih banyak perempuan-perempuan di luaran sana yang perlu kita rangkul,
yang perlu kita topang, yang perlu kita dengar ceritanya dan kemudian kita
peluk. Sebagai perempuan, kita perlu saling menguatkan perempuan satu dengan
perempuan yang lain. Saling menyatukan harmoni dalam satu rasa; kebahagiaan.
*Dinarasikan di Meja Kerja,
Semarang, 10 Desember 2019; 17.00
*Dinarasikan di Meja Kerja,
Semarang, 10 Desember 2019; 17.00

Komentar
Posting Komentar