Langsung ke konten utama

Surat untuk Santa Claus

Doc. Salatiga, 2018


Dear Santa Claus,
Namaku Iswatun Ulia. Orang-orang, memanggilku Ulia. Ini adalah kali pertama aku menuliskan surat untuk mu. Semoga kau berkenan berkawan baik dengan ku.

Oh iya, bagaimana istirahat mu selama setahun ini? Semoga kamu bisa tidur dengan nyenyak ya, dan menyaksikan anak-anak yang berbuat baik selama setahun ini dalam mimpi mu. Tak terasa satu tahun berlalu, kini tiba saat nya kau terbangun dan kembali datang untuk memberikan hadiah-hadiah yang sudah mereka tuliskan untukmu.

Hari Natal, adalah hari yang juga aku nantikan setelah hari raya Idul Fitri. Hal-hal yang aku senangi adalah tentang simbol-simbol perayaan Hari Natal. Mulai dari pohon natal sampai dengan pernak-pernik hiasan, juga lampu yang membalut pohon natal agar terlihat semakin indah. Tak hanya itu, juga tentang souvenir yang berciri khas warna merah, bahkan film-film di televisi yang selalu diputar pada saat menjelang hari natal.

Santa,
Aku memberanikan menulis surat ini untukmu. Tapi surat ini adalah bukan tentang aku yang meminta hadiah, yang mana kau harus memberikannya pada malam hari tepat pukul 00:00 dan aku mendapati hadiah itu di pagi hari.  Di bawah pohon Natal. Tentu, aku tidak akan mendapatinya. Karena, di rumah ku tidak ada pohon natal. Hehe, ah kacau.

Aku menuliskan surat ini karena aku ingin bercerita kepada mu. Ku kira ini akan lebih baik.  Ketika orang-orang sudah sibuk dengan apa yang mereka lakukan. Ketika orang-orang sudah sibuk dengan gadget yang mereka miliki, hingga abai kepada orang-orang yang ada di sekeliling mereka.


Hari ini, tepat pada tanggal 22 Desember. Hari di mana dinisbatkan secara nasional sebagai Hari Ibu. Entah, seremonial apa yang sedang orang-orang lakukan di luar sana agar membuat Ibu-ibu mereka bahagia.  Membeli kado sebagai bagian dari praktik kapitalisme yang berlarut, atau bahkan sampai pada pembebasan Ibu dari kerja domestik. Entah apapun yang mereka lakukan, aku tidak ingin mengintervensi. Semua memiliki hak untuk membahagiakan satu dengan yang lain, termasuk Ibu.


Dua puluh lima tahun berlalu, tak terasa sudah seperempat abad. Beruntungnya aku yang masih bisa menyaksikan kehadiran Ibu, dan juga Bapak tentunya. Di saat orang lain masih merasakan perkabungan, kehilangan mereka yang terkasih untuk selamanya. Terlepas siapapun, aku yakin bahwasanya setiap orang diciptakan dengan hati yang kuat. Tinggal bagaimana ia bisa melapangkan diri.

Santa,
Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Di antara kedua saudaraku yang lain, aku adalah anak perempuan yang paling mandiri. Itu, kata orang tua ku. Mereka yang dengan antusias menceritakan tentang ku kepada orang lain. Dulu, aku sempat risih dan merasa tidak nyaman jika mereka membicarakan tentangku. Tapi sekarang, aku sadar dibalik cerita-cerita itu ada rasa bangga yang mereka ingin bagi. Ada rasa bahagia, yang juga ingin mereka bagi. Karena pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan ingin didengarkan.

Aku, memang perempuan yang tidak pandai. Tidak pandai mengungkapkan rasa. Apalagi melalui ucapan. Aku lebih baik bungkam dan mengungkapkannya melalui narasi. Dan ini juga yang sedang aku lakukan. Aku tidak bisa mengungkapkan rasa sayangku kepada mereka, Ibu dan Bapak. Tidak pernah aku mengungkapkan dengan lisan rasa sayangku pada mereka. Namun, aku yakin, pasti mereka tahu bahwasanya aku sayang pada mereka. Sangat sayang. Pula, aku yakin semua orang pasti sayang kepada orang tua kita masing-masing. Termasuk kamu, iya kamu, yang sedang membaca narasi ini. Kepada kamu, lakukanlah apapun yang membuat orang tua mu bahagia. Tak perlu mewah, sederhana tidak apa. Segala apapun yang bersumber pada hati, apapun bentuknya akan terasa luar biasa.

Santa,
Bersama dengan rintikan air hujan dan rintikan air yang membasahi pipi ini, tolong jaga mereka, ya. Sampai pada tiba masanya datang seseorang yang akan menggantikan dirimu. Menjaga bapak dan Ibu, juga menjaga ku.

Santa, surat ini tak lain kutujukan hanya kepadamu.
Tak lupa, kutanggalkan hati ini di dalamnya. Semoga kau berkenan membaca dan menjaga hati ku.

Dear Santa, tetaplah hidup dalam ilusi.

Merry Christmast!

*(Ditulis di YPK eLSA Puteri, Perum Bukit Mandiri Beringin
Minggu, 22 Desember 2019)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...