![]() |
| Fastsave |
"Urusan kita, hanyalah berjuang untuk apa yang kita inginkan”.
Sepenggal kalimat yang ku ingat pada salah satu video yang ku putar dalam salah satu channel YouTube.
Mencoba memahami makna, memori otak yang terbatas membawa ku kembali mengingat hal-hal yang telah lampau. Beberapa kali menginginkan sesuatu, beberapa kali pula aku gagal mendapatkan sesuatu. Namun, tidak dipungkiri pula, beberapa kali pula aku bisa berhasil mendapatkannya.
Kalimat itu, kemudian menyadarkan ku bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak hanya cukup pada batas “ingin”. Namun, keinginan, juga harus termanifestasikan secara penuh dalam pikiran. Sehingga, melahirkan perbuatan-perbuatan yang akan menghantarkan pada keinginan.
Lantas, pikiran ku kemudian mendapati dan menyadari akan sesuatu hal. Sebuah pesan balasan dari salah seorang kawan.
"Ayolah, menyelam sambil minum air”.
Kalimat ini ku pahami sebagai, jawaban atas percakapan sebelumnya. Percakapan mengenai relasi asmara manusia.
Sampai sejauh ini, aku selalu mendikotomi antara pendidikan dengan asmara. Keduanya adalah hal yang berbeda, dan pantang untuk bisa disatukan. Pesan Bapak yang masih menjadi mantra sampai dengan saat ini.
Aku mengakui, aku kalah dalam hal relasi asmara. Namun kemudian aku sadar kalimat di atas tadi. Bahwa, segala yang diinginkan harus termanifestasikan dalam fikiran. Ini yang pada akhirnya aku sadar, bahwa memang relasi bukan termasuk dalam list yang harus termanifestasikan dalam fikiran ku (untuk saat ini).
Berada dalam lingkungan mayoritas laki-laki, memang membuatku harus survive/fight (psikologi). Namun, selebihnya aku merasa cukup. Sungguh, bagiku mereka adalah tempat berbagi. Cerita, tawa, resah, gundah, marah, dan segala emosi. Aku merasa bersyukur berada di antara mereka. Bersama mereka aku merasa cukup.
Tuan, Maaf jika sampai dengan hari ini, kamu dan aku belum menjadi bagian dan tempat berbagi cerita, juga emosi satu sama lain.
Aku pun dengan sangat tidak keberatan, kau berada di lingkungan mayoritas perempuan dan berbagi cerita dengan mereka. Apapun, lakukanlah. Selagi itu membuat kita semakin belajar satu dengan yang lain.
Kita tidak tahu sampai kapan, satu dengan yang lain termanifestasikan dalam fikiran kita masing-masing. Tapi yang pasti, dengan sepenuh keyakinan ku, engkau adalah laki-laki terhebat. Hanya engkau yang pantas mendapatkan diriku. Begitu pula dengan aku.
Tolong, jaga kesehatan..
(Ditulis di YPK eLSA Puteri; 19/03/20)

Komentar
Posting Komentar