Langsung ke konten utama

Mempertanyakan Kehidupan

Pixabay.com


“Keresahan seringkali terbentuk dari pertanyaan-pertanyaan”

Dear Encycofeedia readers,

Pernahkah kamu mempertanyakan kehidupan?
Mengapa kamu diciptakan?
Untuk apa kamu hidup?
Untuk tujuan apa kamu masih bertahan sampai saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu, yang seringkali terbersit dalam pikiran ku saat hendak terlelap. Bahkan, saat aku sendiri duduk hening. Entah berapa kali. Kalaupun toh aku harus menghitung, tentu aku sendiri yang akan kelelahan untuk mengingat. Menyadari, kapasitas otak yang dimiliki manusia biasa seperti diriku.

Iya, tidak kurang dari pukul 23.00 WIB pertanyaan itu seringkali muncul. Semakin aku menghindar dan mencoba menghilangkan pikiran itu, justru semakin kuat dalam ingatan dan tak mau enyah.

Dalam heningnya malam, lamat-lamat aku menatap cahaya lampu Tumblr. Dua detik cahaya menyala, dua detik kemudian cahaya redup. Begitu seterusnya. Mungkin, jika lampu-lampu kecil itu dapat berbicara, mereka pun akan protes dan mengambek karena kelelahan.
Belum aku menemukan jawaban, pertanyaan itu justru bertambah lagi.

Pada usia berapakah aku mendapatkan usia ke-emasan ku (seringkali orang menyebutnya ; the golden age)?

Usia keemasan yang sudah tertuliskan dalam lauh al mahfudz  Tuhan. 

Apakah aku sudah melewati usia itu? ataukah belum? Atau mungkin justru masa itu tidak ada sama sekali dalam hidupku. Jika memang demikian, kalimat terakhir ini sungguh membuat nafas ku tertahan dan darahku berdesir.

Jika pun masa golden age itu ada, lantas, perubahan apa yang akan terjadi?
Apakah perubahan itu hanya akan merubah diriku sendiri? Merubah keluargaku, atau justru merubah kehidupan orang-orang sekitar? Perubahan yang mengarah pada kehidupan yang lebih baik?

Duhai semesta,
Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam benakku. Apakah pantas kiranya aku menggugat dan mendesak engkau untuk memberikan jawaban-jawan itu padaku?
Rasa-rasanya tidak mungkin. Lantas, kapan aku akan mendapatkan jawaban-jawaban itu?

Dan kau terus saja membisu.


**Ditulis di YPK Elsa Puteri,

Semarang, 3 April 2020; 22:47




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...