![]() |
| source: pinterest.com |
“Manusia adalah pemilik saham bumi dan seluruh kehidupan di dalamnya. Bila investasi kita di bumi tidak hijau, kelak kita akan memetik buah yang sangat pahit”
-
Dr. Adi Suryanto M.Si
Hii
apa kabar?
Bagaimana
hari-hari mu?
Sudah
bosan di rumah?
Sabar
ya, kondisi ini pasti berakhir. Kita hanya perlu bersabar dan menjaga diri.
Terhitung,
ini adalah hari ke-48 sejak kali pertama kabar pandemi virus corona covid-19 menjangkit
warga Indonesia tertanggal 2 Maret 2020. Dengan jumlah Pasien dalam perawatan
(PDP) dan Orang dalam pengawasan (ODP) yang kian hari semakin meningkat. Data
ini bisa kita akses dengan mudah dalam platform-platform pemberitaan. Sangat
melegakan, saat membaca berita tentang kesembuhan para pasien yang dirawat, dan
sangat menyedihkan jika korban ataupun perawat dan dokter meninggal bahkan
beberapa di antara mereka jenazahnya ditolak oleh warga untuk di makankan.
Sungguh, ironi.
Dua
hari yang lalu, aku sempat membaca sebuah buku dalam bentuk PDF yang berjudul “Diary of A Green Soul”, buku ini berisi
tentang kumpulan cerita sehari-hari mereka yang berjiwa hijau. Sebuah buku yang
diterbitkan oleh Global Green Growth Institute (GGGI) bekerjasama dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN)
Republik Indonesia tahun 2019.
Membaca
beberapa cerita yang ada di dalam buku itu, kemudian aku berefleksi terhadap
diriku sendiri.
Mencoba
menjadi pribadi hijau, ada beberapa hal yang saat ini pun sedang aku lakukan
dan berusaha untuk membiasakan diri. Beberapa diantaranya; menggunakan sedotan
stainless, menggunakan tas belanja, menggunakan listrik seperlunya.
Menggunakan sedotan stainless. Terhitung sudah sekitar tiga sampai empat bulan aku tidak menggunakan sedotan plastik dan
beralih ke sedotan berbahan baku besi atau stainless. Sedotan ini, selalu
standby di dalam tas dan tidak boleh tertinggal. Setiap kali ke tempat makan,
selalu ku keluarkan salah satu diantara tiga sedotan itu yang tentunya menyesuaikan
kebutuhan dan kegunaan. Hal ini sengaja kulakukan untuk menghindari penggunaan
sedotan plastik yang sudah disediakan. Belum lagi, kalau sedotan plastik yang
kita ambil itu kemudian terjatuh, pasti dengan segera kita akan mengambil ganti
yang baru. Bahkan, tanpa mengambil sedotan yang telah terjatuh dan membuangnya
ke tempat sampah. Ini sangat buruk.
Pernah
suatu malam, salah satu sedotan stainless tertinggal di dalam gelas pesanan
pasca melakukan pertemuan dengan kawan di sebuah kafe di Ngaliyan. Dua hari
setelahnya, aku baru menyadari kalau paket sedotan ku kurang satu. Malam
harinya, aku ke kafe tersebut menanyakan sedotan kepada waitress apakah
menyimpan sedotan itu atau tidak. Bersyukurnya, mereka menyimpan sedotan itu.
aku merasa lega.
Selalu membawa tas belanja. Sebelum mendisiplinkan diri untuk selalu membawa tas
belanja, aku pun sering lupa dan beberapa kali pula dengan terpaksa menggunakan
plastik berbayar yang disediakan di tempat perbelanjaan. Seperti merasa
bersalah saat menggunakan plastik itu. Bukan perkara plastiknya berbayar,
melainkan dampak yang akan ditimbulkan saat menggunakan plastik. Mengingat,
plastik adalah bahan yang sulit diurai. Belum lagi, jika ingat pemberitaan
tentang sampah yang sudah banyak di laut. Bahkan, termakan oleh beberapa ikan.
Sungguh kasian.
Beberapa
tempat belanja ritel pun sudah tidak menyediakan kantung plastik. Pengalaman
lupa membawa kantung plastik, membuat ku harus membawa barang belanjaan dengan
kesulitan. Bahkan, belanjaan pun sempat jatuh berserakan. Sejak saat itu,
sungguh merasa betapa pentingnya selalu membawa tas atau kantung belanja ke
manapun. Dan sekarang, aku selalu membawa tas belanja yang ku taruh di dalam
jok motor. Sehingga jika mau berbelanja yang tidak direncanakan, tinggal ambil
kantung belanja. Simple.
Tentang
lingkungan rumah yang hijau dengan tanaman, aku masih belum memulai. Namun, ada
keinginan yang besar untuk pulang dan mulai menghijaukan rumah. Dengan tanaman
berbunga, atau apapun. Disaat di luaran sana, hutan ditebangi secara ilegal,
aku disini memulai langkah dengan menanamnya. Seperti hilang dan berganti.
Sungguh, aku ingin segera pulang.
Itu
beberapa hal yang saat ini sedang aku lakukan dan menjadi kebiasaan. Bagaimana
dengan kamu?
Menjadi
pribadi hijau memang dibutuhkan usaha. Usaha untuk mengingat, usaha untuk
memulai, dan usaha untuk bisa dilakukan terus menerus (continue). Tidak ada hasil yang besar, jika tanpa dimulai dari hal
yang kecil.
Kita
perlu mengingat, bahwa peradaban akan terus berlanjut. Menciptakan
generasi-generasi yang cerdas dan ‘arif. Jangan sampai karena kerusakan lingkungan
yang semakin marak terjadi akan menghentikan bahkan memusnahkan peradaban.
Peradaban yang sesungguhnya penuh kemanusiaan.
Stay
safe and be Green the People!
**Dinarasikan
di YPK Elsa Puteri,
Semarang,
18 April 2020; 19:44

Komentar
Posting Komentar