![]() |
| source: http://pinterest.com |
“ Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup.
Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”
-
Ali Bin Abi
Thalib
Dear
Encycoffeedia readers, apa kabar?
Lama
sekali rasanya kita tidak pernah bertegur sapa. Kita tidak pernah berjumpa
dalam beranda. Semoga dalam keadaan semangat dan berbahagia, ya.
Tulisan
sederhana ini berawal dari kegelisahan, yang penulis secara pribadi rasakan.
Dan juga, berasal dari respon-respon viewers history watsap yang sudah berkenan
berkomentar atas dua pertanyaan. Pertanyaan ini penulis anggap sebagai bahan
riset kecil-kecilan. Dua pertanyaan itu adalah;
“Pernah gak sih kita berekspektasi?”
“Apa
yang kita rasakan kalau ekspektasi tidak sesuai dengan realita?”
Kepada
kamu yang sudah merespon dua pertanyaan ini, penulis ucapkan terimakasih.
Terimakasih banyak sudah berkenan berbagi pandangan dan pengalaman yang luar
biasa kepada penulis. Semoga kita bisa selalu belajar dan bertumbuh. Amin. One more, Thanks a lot!
Membicarakan
tentang ekspektasi, izinkan saya mengutip pengertian ekspektasi menurut Fleming
dan Levie (1981), ekspektasi adalah segenap keinginan, harapan dan cita-cita
terhadap sesuatu hal yang ingin diraih dengan tingkah laku dan tindakan yang
nyata. Jadi, ekspektasi adalah harapan besar yang dibebankan terhadap sesuatu
yang dianggap akan memberikan dampak yang baik atau yang lebih baik.
Pada
pengertian ini, sudah jelas bahwa ada tiga hal yang bisa digaris bawahi pada
ekspektasi, yakni yang pertama adalah harapan, kedua, memberi dampak yang baik atau
lebih baik, dan ketiga adalah tindakan nyata.
Secara
tidak sadar, seringkali kita hidup dalam bayang-bayang ekspektasi.
Bayang-bayang harap akan sesuatu hal. Namun, sesuatu hal itu pada kenyataannya
tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Atau seringkali kita berkata “ah, realita tidak sesuai ekspektasi” nah
itu dia. Pernahkah kita menghitung berapa kali kita mengatakan hal itu? Jika
kita merasa sering mengucapkannya, itu adalah tanda bahwa kita sering
berekspektasi.
Hidup
dalam bayang-bayang ekspektasi seringkali juga membuat seseorang merasa kecewa.
Hal ini bisa saja terjadi saat kita meletakkan atau menggantungkan harap pada
orang lain. Pada hubungan relasi antar jenis, ekspektasi ini bisa saja menjadi
salah satu diantaranya merasa patah hati. Atau mungkin justru bahkan pada
keduanya, Karena harapan-harapan akan sesuatu hal yang disematkan antara satu
dengan yang lainnya, tanpa pernah harapan itu terucapkan dan dimengerti satu
sama lain. Sama halnya seperti kuncup
bunga yang mekar, lamat-lamat juga akan berguguran. Ekpektasi pun demikian.
Perlahan harapan-harapan akan mulai berguguran.
Membicarakan
tentang ekspektasi, tidak dipungkiri penulis pun masih hidup dalam kungkungan
ekspektasi. Sering berharap pada sesuatu hal, sesering itu pula penulis
merasakan kecewa. Seolah-olah memaksa harapan-harapan itu mewujud menjadi nyata.
Berekspektasi, menurut penulis sama halnya hidup dalam ketidakmungkinan. Apalagi
jika ekspektasi itu disematkan pada orang lain. Hal itu sama halnya dengan memaksa
orang lain untuk hadir dan hidup dalam harapan semu. Tanpa pernah menyadari
bahwa mungkin saja orang lain memiliki ekspektasi yang sama terhadap diri kita.
Dan pada suatu waktu ternyata kita tidak mampu menjadi apa yang orang lain
harapkan. Betapa kecewanya.
Sering
merasa kecewa, sakit hati, gugur harapan adalah bagian dari sinyal-sinyal
darurat ekspektasi. Ekspektasi adalah toxic. Racun dalam menjalani hidup atas
harapan-harapan yang tak berkesudahan. Lantas, kamu bertanya, “Jadi, apakah
hidup tidak boleh berharap akan sesuatu hal”?
Boleh.
Tentu boleh. Harapan bagiku pribadi adalah pelumas dalam menjalani kehidupan. Yang
tidak boleh adalah jika kita menaruh harapan kepada orang lain secara
berlebihan, dan secara tidak langsung memaksa orang itu untuk memenuhi
harapan-harapan kita itu. Dan jika orang lain tidak dapat memenuhinya, kita
akan merasa kecewa, atau mungkin patah
hati. Ini yang tidak boleh.
Menjauhkan
diri dari ekspektasi, bagiku pribadi adalah bagian dari memahami kebijaksanaan
hidup. Mengapa?
Karena
tidak berekspektasi akan sesuatu hal membuat kita tidak menaruh harap yang
lebih. Semakin menyadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak
memaksa orang untuk hidup dalam bayan-bayang harap. Menemukan dan merasakan
kehadiran orang lain di sekitar kita, membuat penulis pun semakin sadar.
Berbagi cerita dan menemukan orang yang mau mendengar adalah sebuah
keberuntungan. Semakin merasakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk
berbagi. Berbagi cerita, berbagi rasa bahkan berbagi duka.
Ekspektasi
muncul didalam pikiran. Lalu siapakah yang bisa mengendalikan ekspektasi? Ya
tentunya pikiran itu sendiri. Pikiran-pikiran kita siapa yang mengendalikan? Ya
kita sendiri!
Stop Berekspektasi and Stay Healthy!
*Dinarasikan
bersama sisa-sisa gerimis yang jatuh pada awal bulan Juli,
Semarang,
3 Juli 2020 ; 00:14

Komentar
Posting Komentar