Langsung ke konten utama

Macrame; Seni Bermain Simpul dan Bermimpi

 

Picture: Macrame Dream Catcher
Picture: Macrame Dream Catcher
 

Dear encycoffedia readers, apa kabar?

Lama sekali ya, kita tidak saling bertegur sapa.

__

Terhitung hampir enam bulan negeri ini dilanda pandemi. Membaca pemberitaan di koran maupun di platform media sosial membuat pikiran semakin sumpek. Mau berdiam diri atau melakukan aktivitas di dalam rumah, jenuh. Belum lagi kalau ada hal (termasuk pekerjaan) yang harus diselesaikan dan mengharuskan keluar rumah,  rasa was-was selalu menghantui.  Serba salah. Karena itulah, entah sejak kapan aku tidak pernah lagi mengikuti pemberitaan pandemi covid-19 sampai dengan saat ini. Merasa lebih lega, Namun harus tetap berhati-hati.

Untuk mengalihkan fokus perhatian, aku mulai mencoba mempelajari seni Macrame. Tentu, hal ini tidak serta muncul begitu saja. Bahkan, kata macrame saja aku baru tahu sekitar tiga atau empat hari yang lalu. Saat berselancar pada platform media sosial instagram. Awalnya, tak kusadari ternyata jemariku singgah pada akun profil dan scroll sampai pada feed paling bawah, yang artinya hampir saja aku khatam melihat seluruh postingan foto di akun tersebut. Pasca itu, kusadari rasa ketertarikan ku mulai muncul. Aku bergumam dalam hati, kenapa ketertarikan ini muncul begitu cepat sekali? tanpa permisi. Bahkan mengalahkan ketertarikan ku saat ini pada laki-laki. Sial.

Dears, membicarakan tentang seni macrame, rasanya tidak afdhol kalau tidak membicarakan tentang asal-usulnya. Makrame adalah seni menyatukan simpul yang terdiri dari beberapa tali atau benang untuk membuat sebuah karya tangan (handmade). Makrame sendiri berasal dari Bahasa Arab migramah yang memiliki arti hiasan tangan atau anyaman. Asal mula makrame diyakini berasal dari tradisi ikat simpul para penenun Arab sekitar abad ke-13. Meski sebagaian besar cerita dan penuturan menyebutkan bahwa Arab adalah sebagai asal usul makrame, seni membuat simpul juga disinyalir muncul pertama di China pada periode Negara Perang (481-221 SM) atau bahkan jauh ke belakang  pada masa kekuasaan Dinasti Utara (581-317 SM).*

Membuat seni makrame dapat meningkatkan kesehatan tubuh. Hal ini sebagaimana hasil kajian dari The British Journal of Occupational Theraphy yang menyebutkan bahwa merajut atau aktivitas serupa lainnya andil mengurangi depresi. Sebanyak 81 persen dari total 3.500 lebih responden mengaku merasa bahagia setelah melakukan pengerjaan  tersebut.

__

Setelah mencoba mencari tahu informasi dan tutorialnya via search angine Google. Ku putuskan untuk membeli peralatan yang dibutuhkan, meski pada awalnya sempat ada drama bolak-balik ke toko selepas pulang kerja karena ternyata toko sudah tutup. Ibarat pepatah ‘jangan jatuh pada lubang yang sama’, maka ku putuskan untuk mendatangi toko pada saat berangkat kerja, dengan konsekuensi harus berangkat lebih pagi. Dan berhasil.

“Hal yang paling berat pada sebuah proses adalah memulai”. Maka, aku mencoba untuk membantah premis yang ku buat sendiri.  Pada tanggal 18 Agustus, aku memulai membuat makrame. Sulit, karena memang belum pernah membuat. Tapi setelah mencoba, justru rasa penasaranku tumbuh begitu besar. Sangat besar. Ingin mencoba membuat dengan model, dan simpul yang berbeda.

Terhitung tiga hari ini, aku berlatih membuat beberapa simpul, dua macrame keychan, dan dua macrame dream catcher. Membuat macrame rasa-rasanya membuat lupa waktu. Saat lihat jam, tiba-tiba sudah jam 10 siang atau 12 malam.  Karena pada pagi dan malam harilah waktu yang kuputuskan untuk merawat sedikit jiwa seni yang ada di dalam diri. Berharap, bisa bertumbuh semakin besar.

Selain mengisi waktu luang, membuat makrame juga dibutuhkan kreativitas. Kreativitas memadu padankan warna tali, simpul, manik-manik, serta model yang akan menjadi dasar pembuatan makrame. Tapi tenang saja, kreativitas itu bukanlah sesuatu yang sudah terberi (given) oleh Tuhan yang bersifat mutlak. Kreativitas bisa kita ciptakan dan kembangkan, kok. Asal, kita mau belajar dan mencoba. Semakin banyak referensi yang kita cari, akan semakin menambah daya kreativitas. Tenang saja.

Jika membicarakan jangka panjang, selain menjadi womenpreneur,  aku pun ingin menjadi sociopreneur. Tidak hanya mendatangkan materi untuk diri sendiri, tapi juga orang lain. Membuat pelatihan sebagai bentuk pemberdayaan. Karena seni makrame ini berpotensi untuk menghasilkan materi, harapannya bisa memberdayakan masyarakat dalam hal ekonomi. Tuhan, tidak apa ya aku bermimpi dulu. Amin!

 

Dearest,

Terlepas dari semua narasi ini, tahukah kamu apa alasan ku untuk memulai belajar seni macrame?

Agar aku tidak menjadi perempuan yang biasa-biasa saja!

 

***
Dinarasikan di YPK ELSA Semarang

20 Agustus 2020; 21:19

 

 

 

 

 

 

 

*https://pauddikmaskaltim.kemdikbud.go.id/mengenal-kriya-macrame-seri-1-kriya-macrame/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Bertambah Usia

source: pinterest.com “ Bertambah usia berarti bertambah pula syukur kepada Tuhan..” Hari ini, tepat seperempat abad usiaku. Pada tanggal dan bulan ini, aku dilahirkan ke dunia dari rahim perempuan yang sangat luar biasa. Didampingi oleh laki-laki yang luar biasa pula. Perempuan dan laki-laki yang sampai saat ini dan selamanya aku panggil sebagai ‘Ibu’ dan ‘Bapak’. Dearst, Terimakasih banyak atas ucapan-ucapan, atas doa-doa yang dipanjatkan, atas segala harapan-harapan yang baik. Semoga Tuhan mengabulkan menjadi kebaikan-kebaikan yang memberi manfaat, tidak hanya untuk diriku tetapi juga mereka yang berada disekelilingku. Mohon maaf dengan sangat, apabila aku tidak membalas. Tapi percayalah aku dengan amat sangat bahagia mendapatkan ucapan dan doa-doa itu. Dan aku, dengan penuh kesadaran diriku, melangitkan doa yang sama kepadamu untuk segala kebaikan-kebaikan mu. Bertambahnya usiaku saat ini, aku hanya ingin mengalienasi diri dari ceremony ucapan, pula perayaan. ...

Maya, Selamat Wisuda

Source : ig @mayasofiachaca Malam ini, di dalam ruang kamar yang tidak terlalu terang namun cukup pencahayaan, akan kuceritakan tentang seseorang, yang jika ku hitung sudah sekitar lima tahun aku dan dia berada di Kota Lumpia ini. Kami dipertemukan dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (Pers Kampus). Sebelumnya, sekitar dua tahun yang lalu, aku sempat menuliskan sajak untuknya. Tepat, di wisudanya pula saat meraih gelar Diploma. Perempuan, yang dengan segala semangat, kegigihan dan ketekunannya melancong dari Kota Bika Ambon menuju Kota Lumpia dengan membawa segudang mimpi yang ingin ia capai. Entah bagaimana tangan Tuhan bergerak, yang pasti Ia adalah sutradara yang paling handal. Aku tahu betul, dia adalah perempuan yang sangat gigih, mandiri, dan ceria. Dia sangat ambisius untuk mencapai hal-hal yang positif, termasuk di antaranya adalah  kompetisi dan prestasi. Terbukti, banyak prestasi yang sudah dicapai, aku akan mencoba mengingatnya, sebatas yang ku tahu. Di ...

Mencintai Adalah Suatu Keputusan

Source: http://pinterest.com   “Sekuntum bunga tak akan merekah indah tanpa sinar matahari, sebagaimana manusia tak akan mampu hidup tanpa cinta” - Max Muller  Konon, pelajara dasar pertama untuk menjadi manusia yang bermanfaat adalah konsisten menerapkan prinsip memberi sebanyak mungkin dan menerima (meminta) sedikit mungkin. Suatu contoh klasik yang layak menjadi acuan kita adalah perilaku Ibu terhadap anak-anaknya. ‘Dari segala pemberian atau hadiah yang ditawarkan kehidupan, kasih sayang Ibu adalah hadiah terbesar’. Ia memberi segalanya tanpa pamrih apapun, tanpa mengharapkan balasan apapun. Semua dilakukan semata-mata karena kasih sayang tiada tara terhadap anak-anaknya. Cinta kasih sejati adalah memberi.  Sebagian besar manusia senantiasa mendambakan cinta dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana manusia mengharapkan udara bersih yang menyehatkan hidup dan kehidupan. Namun, dalam realita kehidupan, terdapat pula orang yang seakan-akan tak mengenal cinta kepada sesam...