Hari-hari begitu gelap dilalui. Setiap langkah kaki, selalu dipayungi awan mendung nan hitam. Hanya tinggal menunggu rintik itu turun ke bumi. Hari ini, esok, atau entah..
Ingatanku, kembali melesat pada September 2020 silam..
__
Tulisan ini tentang kehilangan. Kehilangan yang tidak akan pernah kembali lagi. Kehilangan yang telah digariskan tanpa kita pernah tau pasti. Dan tulisan ini, untuk mengajarkan tentang arti kehilangan.
Malam itu, aku berangkat menuju ke Semarang. Perjalanan ku lalui menggunakan transportasi kereta. Di masa pandemi covid-19 seperti sekarang ini, jumlah penumpang jauh berbeda. Kursi tempat duduk pun diatur sedemikian rupa untuk meminimalisir penularan covid-19.
Sebelumnya, aku diantar oleh Bapak dan Kakak Ipar ku menuju stasiun Pemalang, stasiun keberangkatan. Seperti biasa, saat kereta sudah tiba di stasiun, aku berpamitan dan seperti biasa, Bapak selalu meniup ubun-ubun ku sembari melangitkan doa untuk kebaikan dan segala kelancaran urusan ku. Perlahan, aku mulai melangkahkan kaki menuju pengecekan tiket dan masuk ke dalam kereta. Bersamaan itu pula, wajah Bapak sudah tak dapat kulihat.
Aku masuk ke dalam gerbong, dan mulai mencari tempat duduk yang sudah ku pilih sewaktu melakukan reservasi tiket secara online. Entah sejak kapan, aku selalu memilih kursi yang hanya kutempati sendiri dan dekat dengan jendela.
Beberapa menit kemudian kereta pun melaju, perlahan, dan semakin kencang.
Berbeda seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya yang sedikit banyak kugunakan untuk membaca buku, perjalanan kali ini aku tak menyentuhnya sama sekali. Meski buku itu ada di dalam tas. Tapi, aku mengerti apa yang dibutuhkan oleh diriku sendiri. Pandanganku jauh melesat melihat pemandangan di balik jendela. Bentangan sawah, pepohonan, rumah-rumah warga yang mungkin seringkali merasa terganggu saat kereta sedang melaju di depan rumah mereka.
Di tengah perjalanan, sayup-sayup terdengar suara perempuan menangis. Awalnya, tak kuhiraukan suara tangisan itu. Mungkin saja aku salah dengar. Batinku. Namun, lambat laun suara itu terdengar semakin kencang dan sesenggukan. pandanganku mencari-cari sumber suara tangisan tersebut. Dan benar, di seberang tempat ku duduk, ada seorang perempuan yang tengah sesenggukan menangis. Tangis perempuan itu tak hanya menarik perhatianku seorang. Namun, hampir seluruh penumpang yang ada di dalam gerbong. Dalam hati, ingin rasanya menanyakan sebab mengapa ia menangis. Namun, semua pertanyaan itu, ku pendam dalam hati. Kereta pun terus melaju, bersama dengan tangisan seorang perempuan yang entah aku belum tau penyebabnya.
Sesampainya di stasiun Poncol, perempuan itu masih tetap menangis sembari menurunkan barang dari bagasi penumpang. Aku pun semakin penasaran. Perempuan itu berjalan turun. Aku pun bergegas untuk mengikutinya. Tiga langkah kaki berjalan hendak turun dari kereta, aku kembali lagi ke tempat duduk semula memastikan bahwa tidak ada satu barang pun yang tertinggal. Niat hati agar mendapatkan kepastian bahwa tidak ada satu barang pun yang tertinggal, justru aku kehilangan jejak si perempuan yang tengah menangis itu. Aku pun semakin bergegas untuk mencari perempuan itu. Aku harus bertemu dengan perempuan itu. Aku akan mengikuti ke manapun si perempuan itu pergi. Batin ku menceracau.
Tak lama, akhirnya aku melihat si perempuan itu dari kejauhan, dan terus ku ikuti hingga pada akhirnya ia masuk menuju loket pemesanan tiket di customer service. Kenapa ia masuk ke loket pemesanan tiket? Bukankah ini sudah sampai di stasiun akhir? Aku bertanya dalam batin.
Karena rasa penasaran ku yang sangat besar, maka ku putuskan untuk menunggu si perempuan itu sampai ia keluar dari loket. Tak lama, perempuan itu keluar dari loket dan langsung terduduk lemas di tangga, dan masih dengan tangisannya.
Perlahan, aku mendekatinya sembari menawarkan air mineral untuk diminumnya berharap ia merasa lebih tenang. Namun, ia tidak merespon dan tetap menangis. Aku kemudian duduk disampingnya, menanyakan apa yang sebenarnya tengah terjadi padanya.
Si perempuan itu berkata dengan terbata-bata mengatakan apa yang tengah terjadi pada dirinya.
"Bapak lunga" (bahasa Tegal, yang artinya bapak pergi). Sontak, aku langsung paham apa yang dimaksud perempuan itu. Aku pun langsung memeluknya berharap sedikit memberi penguatan untuknya. Ku sandarkan kepalanya pada bahuku dan membiarkan ia terus menangis dan mendengarkan segala perkataan yang keluar dari mulutnya.
Puput, adalah nama panggilan si perempuan itu. Ku tau nama itu, saat ia sedang menceritakan kebiasaan-kebiasaannya saat berkabar dengan bapak, sebelum bapak meninggal.
Bulir air yang terus mengalir, ceracau tak jelas yang keluar dari mulutnya, membuat aku mengerti betapa ia merasa kehilangan. Kehilangan seorang bapak, laki-laki yang sangat ia sayangi. Penyesalan pun begitu terlihat padanya. Penyesalan karena sayang yang tak pernah terungkapkan. Kembali ia membuka-tutup chat whatsapnya untuk melihat foto bapak dan percakapan-percakapan di dalam chat. Semakin ia membaca chat yang telah lalu, semakin kencang pula ia menangis. Bahkan ia mencari kalimat "sayang" pada chatnya namun tak ditemukan. Bersama itu pula ia semakin kencang menangis karena tak pernah mengucapkan kata sayang pada Bapak. Aku pun kembali memeluknya. Dan tak terasa, aku pun meneteskan air mata. Aku menangis tak mampu menahan betapa perihnya kehilangan. Kehilangan Bapak. Laki-laki yang selalu melindungi dan memberikan cinta kasih.
Pukul 20.40 kereta dari Semarang menuju Tegal tiba. Kereta yang ditunggu-tunggu sejak dua jam yang lalu. Dua jam penuh bulir air mata. Dua jam penuh ceracau. Dua jam penuh penyesalan. Aku mengantarnya menuju pengecekan tiket. Di tengah jalan, ia bertanya. "Mbak, masih punya Ibu?" Kujawab "Masih". Ia bertanya lagi "Mbak, masih punya Bapak?" Ku jawab lagi "Masih".
Lalu, ia melanjutkan "Disayang, ya Mbak" ia berpesan.
Seketika aku pun berderai air mata. Kalimat sederhana, tapi begitu menyesakkan.
"Iya Mbak, pasti Mbak. Terimakasih ya mbak". Aku menjawab lirih.
Aku mengantarnya sampai ia melewati pengecekan tiket. Bersamaan itu pula, langkahnya sudah tak ku lihat lagi. Aku membatin. "Tuhan, inikah cara mu mengajarkan ku arti kehilangan? Cerita kehilangan dari perempuan lain, yang begitu sakit kurasa.
__
Dan saat ini, kalimat itu yang semakin menguatkan untuk merawat dan memberi kasih dua sumber kehidupan dalam hidupku. Satu sumber kehidupan, ku sebut sebagai Bapak. Satu sumber kehidupan lain, kusebut sebagai Ibu.
Get well soon and please don't take my sunshine away..
___
**Tulisan sudah dinarasikan pada September 2020 dan dilanjutkan pada 28 Juni 2021.

Komentar
Posting Komentar